Siang di penghujung tahun 2010. Kemacetan mulai terasa begitu memasuki Jl. Slamet Riyadi (Krucuk) Kota Cirebon. Bukan hanya kendaraan yang padat merayap, tapi para pejalan kakipun turut berbaris menyemut menambah kemacetan jalan. Mereka berduyun-duyun menuju Bundaran Adipura di seberang Gedung Negara. Di sanalah lebih dari 108 peserta karnaval akan berputar balik, kembali menuju Astana Gunung Jati.Antusiasme warga untuk menyaksikan karnaval Nadran terlihat dari begitu banyaknya warga yang berjejalan di pinggir jalan, di sepanjang jalan antara Astana Gunung Jati hingga Gedung Negara. Di depan Gedung Negara sendiri tampak ratusan warga menyemut memadati pinggiran jalan, taman Bundaran Adipura, hingga ada yang berdesak-desakan berdiri di atas pagar untuk menyaksikan barisan karnaval. Padahal karnaval yang rencananya akan di buka tepat pukul 15.00 WIB itu masih satu jam lagi dan diperkirakan akan melewati Gedung Negara sekitar pukul 16.00 WIB, karena para peserta karnaval tidak menggunakan mobil atau kendaraan bermotor lainnya, melainkan menggunakan gerobak yang didorong secara manual. Padahal replika yang mereka gerakan bobotnya mencapai ratusan kilogram.
Waktu menunggu yang masih lama itu banyak digunakan oleh warga untuk melakukan berbagai macam kegiatan. Ada yang jalan-jalan di halaman Gedung Negara sambil menikmati suasana gedung bersejarah tersebut, karena tidak setiap hari warga bisa bebas masuk ke sana. Banyak pula yang menggelar tikar di taman Bundaran Adipura sambil menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah. Ada juga yang sekedar duduk-duduk di trotoar sambil menikmati jajanan yang banyak dijual di sana. Wajah-wajah mereka pun tampak begitu ceria, terutama para anak-anak. Padahal matahari bersinar cukup terik siang itu. “Anak-anak senang sekali diajak ke sini, kami para orang tua pun turut senang karena dapat memberi hiburan gratis bagi mereka.” Tutur Prambudi warga Kesenden yang sengaja membawa kedua anaknya untuk menyaksikan karnaval.
Semakin sore jumlah warga semakin bertambah banyak, mereka tidak hanya memadati trotoar jalan saja, tetapi meluber hingga ke tengah jalan. Para polisi lalu lintas yang bertugas di sana pun membiarkan kondisi tersebut. Mereka hanya mengingatkan agar para warga tertib saat karnaval melintas nanti. Dari kejauhan mulai terlihat sebuah patung raksasa berjalan mendekat, bentuknya mirip ogoh-ogoh dengan dua tanduk besar di kepalanya. Wargapun mulai kembali berdesak-desakkan hingga ke tengah jalan, untuk melihat patung raksasa yang merupakan salah satu peserta karnaval tersebut.
Tiba-tiba munculah segerombolan “orang hitam” dari tengah-tengah kerumunan penonton (warga). Mereka adalah petugas keamanan karnaval, yang didandani bak orang primitif yang seluruh tubuhnya dibaluri dengan oli hingga tampak hitam legam. Tugas mereka adalah menertibkan penonton agar tidak menghalangi jalan yang dilalui peserta karnaval. Tugas mereka cukup mudah, yaitu menerobos kerumunan penonton sambil menari tarian ala suku primitif, sambil sesekali berteriak “ Minggir-minggir, kasih jalan!” upaya mereka ternyata cukup efektif, karena jika ada penonton yang membandel tidak mau minggir, otomatis baju merekapun akan belepotan oli karena tertabrak orang-orang primitif tersebut.Tidak lama kemudian munculah beberapa penunggang kuda. Mereka memacu kudanya bolak balik sambil memastikan jalan benar-benar “bersih” untuk dilalui karnaval. Di belakang penunggang kuda tersebut bergeraklah sebuah mobil kuno dengan penumpangnya yang menggunakan busana serba putih ala keraton. Di belakang mobil tersebut mengayuhlah beberapa pengendara sepeda onthel klasik yang berjalan beriringan. Kemudian diikuti replika kereta Singa Barong, kereta Kencana Keraton Kanoman yang terbuat dari kertas, yang didorong oleh beberapa orang yang mengenakan pakaian adat khas Cirebon. Di atas replika Kereta Singa Barong duduk dua orang yang memerankan sultan beserta adipatinya.
Satu persatu para peserta karnaval melintas di depan Gedung Negara dengan tema masing-masing. Mulai dari raksasa yang menyeramkan, kereta kencana yang membawa putri-putri cantik, naga yang bertarung dengan dinosaurus hingga Gunung Merapi yang terus menerus memuntahkan material dan kepulan asap dari dalamnya. Tidak ketinggalan pula kendaraan tempur seperti tank, yang terus menerus menembakkan meriam karbitnya. Replika-replika yang hampir semuanya terbuat dari bahan kertas tersebut, tak henti-hentinya mengundang decak kagum dari warga yang menonton. Ditambah lagi atraksi-atraksi yang mengikuti karnaval tersebut yang semakin membuat suasana karnaval menjadi bertambah meriah, seperti tarian-tarian yang dibawakan dengan gerakan lucu yang mampu membuat para penonton tergelak atau dentuman meriam bungbung yang dentumannya membuat para penonton berteriak kaget.
Menjelang petang, karnaval berjalan semakin menarik. Lampu-lampu yang menghiasi replika membuat karekter yang ditampilkan semakin tampak hidup di tengah cahaya yang temaram. Seperti mata naga yang menyala-nyala sambil mulutnya tak henti-henti mengepulkan asap, seolah naga tersebut benar-benar hidup dan kelaparan mencari mangsanya. Atau Jatayu (rajawali mitologi dalam kisah Ramayana) yang tampak gagah dengan bulu-bulunya yang putih serta cahaya yang gemerlap dalam kepakan sayapnya. Pesona tersebut membuat para penonton enggan beranjak dari tempatnya berdiri. “Sudah seru gratis pula, benar-benar menghibur!” Ujar eko warga Trusmi yang datang menonton beserta teman-temannya.
Saat Adzan Magrhib berkumandang, iring-iringan terakhir karnaval masih bergerak di Depan Gedung Negara, sebagian penonton sudah beranjak untuk pulang, sebagian lagi masih bertahan menyaksikan karnaval sambil menunggu arus penonton yang pulang berkurang. Pada umumnya mereka merasa puas dan terhibur dengan tontonan yang baru saja mereka saksikan. Bagi mereka karnaval Nadran menjadi hiburan tersendiri di akhir tahun. “Lumayan anggo obat stress, bagen tekan umah pusing maning kelingan harga sing tambah larang.” Celetuk seorang ibu sambil beranjak pulang. (ysg)


