Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Friday, June 24, 2011

Trend Baju Muslim Anak Semakin Diminati Menjelang Lebaran


 
Lebaran masih dua bulan lagi, namun permintaan baju muslim anak di pasaran sudah meningkat tajam. Kondisi ini terlihat dari semakin banyaknya orang tua yang mencari baju muslim untuk anak-anak mereka. Hal ini juga dirasakan langsung oleh Kedai Klambie, salah satu toko online yang  menjual pakaian anak-anak melalui jejaring sosial facebook.

Akhir-akhir ini Kedai Klambie kebanjiran permintaan baju Muslim anak dari para pelanggannya. Menurut pemilik Kedai Klambie, Aqeela. Semakin banyaknya corak atau model baju muslim saat ini, menjadikan baju muslim anak semakin tampil trendy dan gaul, tidak tampak ketinggalan jaman dan justru membuat anak-anak tampak lucu saat mengenakannya.

Setiap stock model baru baju Muslim anak yang dimiliki oleh Kedai Klambie selalu di foto dan di upload di toko online miliknya. Walaupun di jual melalui facebook, banyak juga para orang tua, khususnya para ibu yang berminat untuk membelinya. Bahkan ada juga diantara mereka yang selalu memesan stock baru yang di upload oleh Kedai Klambie.

Pelanggannya pun bukan hanya berasal dari dalam kota saja, banyak yang berasal dari luar kota bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar pulau Jawa. Untuk menjaga kenyamanan para pelanggannya dalam bertransaksi, Kedai Klambie selalu berusaha semaksimal mungkin menjaga kepercayaan para pelanggannya. Karena itu ia selalu mengirim barang yang telah dipesan oleh para pelanggannya, begitu para pelanggannya telah mentransfer uang sejumlah harga yang telah disepakati bersama.


Kedai Klambie yang juga membuka stand setiap hari minggu di Pelataran Parkir Stadion Bima Cirebon, juga mengakui jika baju Muslim anak telah menjadi salah satu daya tarik pengunjung untuk datang ke standnya, di samping baju anak-anak model lainnya. Tidak jarang ada pembeli yang memesan model tertentu untuk anak kesayangannya. Menyikapi banyaknya minat para pembeli akan baju muslim. Kedai Klambie menyiasati keterbatasan lahan standnya dengan memasang foto-foto model baju Muslim dari stock yang di milikinya. “ini akan membuat para pembeli semakin mudah untuk mencari model yang disukainya” tutur Aqeela.

“Modelnya lucu-lucu, gak ketinggalan jaman. Anak-anak juga tampak lebih smart saat memakainya.” Tutur Rita, ibu satu anak asal Perumnas Cirebon, saat mengunjungi Stand Kedai Klambie di Bima. Ia juga mengaku suka sekali mengenakan baju Muslim untuk putrinya yang baru berumur tiga tahun tersebut. (ysg)

Kedai Klambie on facebook : shaumichan@gmail.com




Wednesday, April 6, 2011

Membidik Peluang Bisnis Dengan Buku Bekas


Mahalnya harga buku ternyata memberikan peluang bisnis bagi sebagian orang. Mereka adalah orang-orang yang kreatif memanfaatkan kondisi ini untuk menjual buku di pinggiran jalan.

Adalah Pak Hamdani, lelaki berusia 40 tahun ini telah lama menggeluti bisnisnya sebagai pedagang buku di seberang  Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kesepuhan. Pria asal Bandung ini telah 8 tahun berjualan buku di sana. Menurut pengakuannya usaha ini adalah usaha milik orang tuanya yang ia lanjutkan. Beragam buku bertemakan agama ia jual di sana, baik baru maupun bekas. Ia tidak memiliki pelanggan tetap tapi ia memiliki pangsa pasar tetap, yaitu para peziarah baik dari dalam maupun luar kota yang berkunjung ke sana. Omzetnya pun cukup lumayan. Dengan profesinya sebagai penjual buku, ia dapat menghidupi keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan 3 orang anak.

Di Kota Cirebon sendiri masih sedikit tempat yang menjual buku-buku bekas. Seperti di Jalan Siliwangi, Pasar Gunung Sari maupun di Jalan Bahagia tepatnya di seberang Cirebon Mall. Di sana terdapat penjual buku dan majalah bekas tepat didepan emperan sebuah toko batik. Menurut penjualnya, walaupun di mall tersebut terdapat toko buku besar, namun banyak juga masyarakat yang mencari buku maupun majalah bekas di lapak tersebut.

Untuk memenuhi permintaan pasar, hampir semua buku maupun majalah bekas yang dijual dilapak tersebut di datangkan dari Jakarta. Karena itu koleksi barang dagangannya sangat beragam. Walaupun bekas tapi kualitas kertasnya masih cukup baik, apalagi ditunjang dengan masa terbit yang belum terlalu tua. Karena itu para pembelinya pun datang dari berbagai kalangan yang beragam, mereka ada yang mencari Majalah otomotif, dirgantara, politik maupun majalah-majalah keagamaan.

Menjual buku bekas memiliki daya tarik tersendiri, karena pembelinya bukan saja mereka yang tidak sanggup membeli buku baru, tetapi kebanyakan datang dari para kolektor yang memburu buku-buku maupun majalah lama yang berkualitas namun sudah tidak terbit lagi.

Dapat diakui, Cirebon merupakan kota besar dengan antusiasme masyarakat yang tinggi dalam membaca, namun kebutuhan masyarakat akan buku di kota ini belumlah terpenuhi, jadi berbisnis buku ataupun majalah bekas, masih dapat dijadikan pilihan bagi mereka yang ingin berwiraswasta di Kota Cirebon. (ysg)

Tuesday, April 5, 2011

Meraih Rezeki Bersama Upin dan Ipin


Siapa yang tidak kenal dengan Upin dan Ipin, serta tingkah polah mereka yang lucu dan nakal? Kedua tokoh kartun asal negeri Jiran ini sangat populer di negeri kita sejak ditayangkan secara rutin di salah satu TV swasta nasional. Hampir semua masyarakat di negeri ini menyukai bocah kartun tersebut, tidak saja kalangan anak-anak tapi orang dewasapun tak mau ketinggalan menjadi fans Upin dan Ipin.

Kepopuleran tersebutlah yang dimanfaatkan untuk mengais rezeki oleh Bastum dan beberapa pedagang mainan lainnya yang menjual boneka Upin dan Ipin di beberapa pinggir jalan utama di Kota Cirebon.
Bastum misalnya, warga asal Jamblang Cirebon ini, menjajakan puluhan Upin dan Ipin di Jl. RA. Kartini Cirebon, tepatnya di tepi pagar SDN Kejaksan yang terletak di seberang Masjid Raya At-Taqwa. Boneka yang terbuat dari bahan plastik yang diisi angin tersebut, tampak bersanding lucu dengan boneka-bonela sejenis lainnya, seperti boneka Gaban, pinguin dan badut. Ia juga menjual kolam renang mini yang terbuat dari bahan yang sama.

Menurut Bastum, sehari ia bisa menjual boneka Upin dan Ipin lebih dari sepuluh buah, hal ini karena banyak pembeli yang gemas terhadap kedua tokoh berdialek melayu tersebut. Umumnya pembelinya adalah orang tua yang hendak memberikan boneka tersebut untuk anak mereka. “banyak yang membelinya sepasang, tapi ada juga yang hanya membeli satu tokoh saja” Jelas Bastum.
Total keuntungan perharinya dari menjual boneka tokoh Upin dan Ipin sangat lumayan, Bastum menyebut kisaran Seratus Ribu Rupiah perhari keuntungan bersih yang dapat ia peroleh dari menjual mainan-mainan tersebut.

Selain di Jl. RA. Kartini, kita juga bisa menjumpai pedagang boneka Upin dan Ipin di beberapa tempat di Jl. DR. Wahidin. Mereka umumnya memanfaatkan kepopuleran kedua tokoh kartun tersebut sebagai peluang bisnis. Boneka yang merupakan merchandise asli Ipin dan Upin ini dijual dengan harga yang cukup murah, sehingga semakin menarik untuk di bawa pulang.
Jika Upin dan Ipin dapat berkomentar, mereka pasti akan mengatakan: ”Kita berdua bukan sekadar lucu, tapi boleh juga datangkan wang betul... betul… betul… (ysg)