Kemenangan TIMNAS Indonesia dalam ajang AFF Suzuki 2010 dengan serentetan kemenangan yang gemilang, menjadikan euforia tersendiri bagi masyarakat Indonesia terhadap sepak bola nasional. Gegap gempita dan gemuruhnya dukungan terhadap Bambang Pamungkas dan kawan-kawan tidak hanya merasuki masyarakat biasa saja, tetapi juga para petinggi negeri. Hingga presiden SBY dan segenap jajaran mentrinya meluangkan diri untuk menonton langsung aksi TIMNAS saat melawan Filipina beberapa hari yang lalu. Euforia ini semakin memuncak dengan keberadaan dua pemain naturalisasi seperti Irfan Bachdim dan Christian Gonzales, sehingga kaum hawa pun turut larut dalam mendukung sepak terjang Tim Garuda tersebut.
Euforia tersebut serentak menjangkitkan demam sepak bola di kalangan masyarakat dari berbagai usia. Bukan hanya permainan sepak bola yang semakin kerap dimainkan, dari lapangan besar hingga di pinggir-pinggir jalan, tapi kaos TIMNAS menjadi marak dijual di pasaran dan laris manis bak kacang garing. Euforia ini mengingatkan saya kepada Cirebon, kenapa Cirebon tak lagi memiliki klub sepak bola yang mumpuni, padahal memiliki stadion yang lumayan bagus seperti Stadion Bima. Kenapa saya bilang bagus? Karena lapangan ini memiliki drainase yang cukup baik, sehingga tidak ada genangan air saat hujan turun.
Padahal dulu Cirebon pernah memiliki klub sepak bola sendiri yang pernah berlaga di ajang nasional seperti Klub Sepak Bola Indocement dan klub besar lainnya seperti PSIT (Persatuan Sepak Bola Indonesia Tjirebon) dan PSGJ (Persatuan Sepak Bola Gunung Jati). Dimana ketiga klub besar tersebut kini tidak terdengar lagi kiprahnya di dunia persepakbolaan. Jangankan tingkat nasional ataupun regional. Ditingkat Kota/Kabupaten Cirebon sendiripun nyaris tak terdengar keberadaannya.
![]() |
| Romeojuliet.doc |
Saya yakin dukungan yang besar dari masyarakat Cirebon pecinta bola terhadap klub sepak bola luar Cirebon, seperti PERSIB Bandung, PERSIJA Jakarta, bahkan PERSEBAYA Surabaya, dikarenakan masyarakat Cirebon butuh penyaluran akan besarnya rasa cinta mereka pada sepak bola. Saya rasa sudah saatnya para pemerhati dan pecinta kota wali ini memikirkan, bagaimana caranya untuk membangkitkan kembali “arwah” persebakbolaan Cirebon, seperti dengan menyortir bibit unggul melalui turnamen-turnamen lokal yang secara rutin di gelar ataupun dengan mendirikan sekolah sepak bola yang kompeten dan dikelola secara profesional.
Saya rasa sudah saatnya Cirebon merdeka, tidak lagi hanya menjadi tim penggembira dari klub-klub besar asal kota lain yang sedang bertanding. Sudah cukup kita menjadi “pelayan” yang berusaha semaksimal mungkin memberikan room service terhadap klub luar kota yang menjadikan Cirebon sebagai homebase-nya.
Saya yakin, bahkan teramat yakin! Jika kita mau pasti kita akan mampu mewujudkan impian ini. Memiliki klub sepak bola sendiri yang dapat berlaga dengan tangguh di liga nasional. Dimana masyarakat Cirebon tidak lagi menjadi supporter kota lain, yang berteriak lantang sambil berkeliling kota, dengan mengusung nama kota lain yang jaraknya berpuluh-puluh kilo dari Cirebon. Jika saja ada calon walikota/bupati Cirebon yang dalam kampanyenya mengusung program pembentukkan klub sepak bola Cirebon, saya pasti akan mendukungnya dalam pemilihan.
Apakah ada wong cherbon lainnya yang juga memiliki impian yang sama dengan saya? (ysg)


