Saturday, April 16, 2011

Refreshing dengan Terapi Ikan

Ikan-ikan kecil itu bak ikan lapar, begitu kaki para pengunjung di celupkan ke dalam kolam, mereka langsung mengerumuninya. Mulutnya yang mungil memberikan gigitan-gigitan kecil, yang menimbulkan sensasi berbeda. Ada yang merasa seperti di pijat, ada pula yang merasa seperti mendapatkan cubitan. Tapi semua sependapat, gigitan ikan-ikan mungil tersebut dapat menghilangkan pegal-pegal.
 
Itulah ikan terapi atau yang pada awalnya di kenal dengan sebutan Fish doctor (Garra Rufa Obtusa), ikan asal turki ini diyakini mampu memberikan terapi dengan cara menggigiti sel-sel kulit mati, sehingga dapat membuat kulit kita jadi lebih bersih dan sehat. Ikan terapi dengan gigitan-gigitannya yang mungil dipercaya juga dapat memberikan efek pijat yang dapat menghilangkan pegal-pegal di bagian tubuh yang digigitinya.

Ikan terapi adalah ikan-ikan kecil, dengan panjang sekitar tiga sampai dengan lima centimeter. Bentuknya mirip seperti anak ikan mas. Mereka hidup secara bergerombol, karena itu dalam sebuah kolam terapi bisa terdapat ribuan ekor ikan terapi. Jika kita memasukan kaki atau merendam tubuh kita ke dalam kolam, mereka akan segera mengerumuni kita seperti semut. Mereka akan bertahan berkerumun dan menggigiti tubuh kita selama kita merendamnya dalam kolam tersebut. Bahkan tidak jarang beberapa ikan masih menempel di kulit kita saat kita mengangkat kaki kita dari kolam.

Di Cirebon keberadaan ikan terapi saat ini menjadi sebuah perbincangan yang hangat. Khasiat yang dimilikinya selalu menarik orang untuk berkunjung ke tempat-tempat yang menyediakan fasilitas kolam ikan terapi. Ada beberapa tempat yang menyediakan fasilitas tersebut yang selalu ramai di datangi pengunjung, seperti di Desa Cigugur Kuningan, di sentra wisata kuliner ikan kolam Desa Cikalahang Sumber dan dekat Pasar Kramat Kota Cirebon. Tarifnya pun beraneka ragam, ada yang memasang tarif Lima Ribu hingga  Sepuluh Ribu Rupiah perjamnya, bahkan ada yang memasang tarif super murah hanya Dua Ribu Rupiah sampai sepuasnya.  Terapi ikan juga dapat dilakukan secara eksklusif pada dengan suasana yang nyaman di beberapa Health Spa yang terdapat di hotel-hotel, baik di Cirebon maupun di Kuningan.

Populernya ikan terapi menjadikan beberapa warga ingin memilikinya sendiri di rumah, sehingga tidak perlu jauh-jauh ke tempat kolam ikan terapi, yang tentunya cukup memakan waktu dan biaya. Dengan memilikinya sendiri, mereka hanya cukup merendamkan kaki di kolam ikan yang mereka miliki di pelataran rumah. Karena itu keberadaan ikan terapi juga dapat ditemui di sentra penjualan ikan hias, seperti yang terdapat di Pasar Kanoman Cirebon. Di sana ikan terapi di jual seharga Tiga Ratus Lima Puluh Rupiah perekornya, yang tentunya akan lebih murah jika membelinya dalam jumlah banyak. (ysg)

Friday, April 15, 2011

Kumandange Adzan Pitu



Sholat Jum’at lah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan, selain suasananya yang terasa beda, karena masjid ini adalah masjid kuno yang dibangun pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati pada tahun 1480 M (abad 15). Anda juga akan berkesempatan mendengarkan adzan pitu, yaitu adzan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin secara bersamaan. Walaupun lafal/bacaan yang dikumandangkannya sama, namun dengan dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus, kita akan merasakan getaran yang berbeda saat mendengarkannya. Suasana yang sangat tenang terasa selama adzan tersebut dikumandangkan.

Konon adzan pitu pertama kali dikumandangkan sebagai penolak bala. Ada dua versi kisah sejarah tentang asal muasal adzan pitu. Versi pertama adalah Masjid Sang Cipta Rasa mengalami kebakaran hebat, beberapa upaya telah dilakukan untuk memadamkan api yang membakar masjid tersebut, namun selalu gagal. Atas usul dari istri Sunan Gunung Jati, di kumandangkanlah adzan sebagaimana panggilan untuk sholat. Adzan pertama dikumandangkan oleh satu orang namun api belum juga kunjung padam. Kemudian ditambahkan lagi seorang muadzin untuk turut mengumandangkan adzan, tapi api belum juga berhasil dipadamkan. Kemudian ditambahkan lagi beberapa orang muadzin hingga berjumlah tujuh orang, barulah api tersebut padam.

Versi kedua adalah Masjid Sang Cipta Rasa dikuasai oleh kekuatan jahat yang bersemayam di kubah masjid, kekuatan itu berasal dari jin yang bernama Menjangan Wulung.   Jin tersebut membuat resah warga, karena membunuh siapapun yang datang ke masjid untuk sholat. Tidak mudah untuk mengalahkan Menjangan Wulung, karena ia adalah sesosok jin yang sangat sakti. Berdasarkan ikhtiar, Sunan Gunung Jati mencoba melawannya dengan kumandang adzan. Beliaupun menugaskan seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan, namun jin tersebut berhasil membunuh sang muadzin. 

Upaya pun terus dilakukan hingga Sunan memerintahkan tujuh orang muadzin sekaligus untuk mengumandangkan adzan. Hingga terdengarlah dentuman keras yang menghempaskan kubah masjid ke angkasa sekaligus membunuh menjangan wulung. Kisah ini juga diyakini menjadi penyebab kenapa Masjid Sang Cipta rasa tidak memiliki kubah dan sebagian masyarakat meyakini kubah masjid tersebut jatuh di wilayah Banten.

Sejak saat itu adzan pitu selalu dikumandangkan setiap waktu sholat tiba. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini adzan pitu hanya dikumandangkan pada saat waktu sholat jum’at tiba. (ysg)

Biar Mlarat Asal Sehat

Bisa jadi banyak yang tidak setuju dengan ungkapan dalam judul di atas. tapi tunggu dulu yang dimaksud adalah krupuk mlarat, yaitu krupuk khas Cirebon, yang digoreng tidak menggunakan minyak goreng tapi menggunakan pasir. Itulah sebabnya, kenapa krupuk ini disebut dengan krupuk mlarat (mlarat=miskin) karena tidak menggunakan minyak goreng yang harganya terus melambung, karena itu pula krupuk ini diklaim sebagai kerupuk sehat sebab tidak mengandung kolesterol di dalamnya. Walaupun digoreng menggunakan pasir, rasa kerupuk ini tetap gurih dan lezat. Apalagi kalau kerupuk ini kita siram dengan sambal kacang yang pedas. Wuihhh... rasanya akan tambah maknyusss... 
Di Cirebon sendiri banyak produsen kerupuk melarat, tapi uniknya jarang ada yang mencantumkan merek dagang dalam kemasannya, yang hanya berupa bungkusan plastik bening. Sehingga semuanya tampak sama. Tapi jangan khawatir, semuanya tetap berasa lezat dan yang terpenting tak perlu khawatir jatuh mlarat untuk menikmati gurihnya kerupuk mlarat. Untuk membelinya pun cukup mudah, karena di Cirebon sendiri banyak penjajanya, mulai dari pedagang kaki lima di pinggir jalan, di pasar hingga di toko pusat oleh-oleh. (ysg)
                                                                                                                                             

Thursday, April 14, 2011

Menikmati Lezatnya Sate Kalong di Malam Hari


Bau harum tercium semerbak saat sepiring kecil berisi sate itu disuguhkan. Bau harum itu berasal dari sate kalong yang baru saja selesai dibakar. Sate kalong adalah salah satu makanan khas Cirebon yang memiliki rasa yang khas jika dibandingkan dengan sate-sate lain pada umumnya.

Sebenarnya sate kalong bukanlah terbuat dari daging kalong (kelelawar) tapi terbuat dari daging kerbau. Dinamakan sate kalong, karena sate ini biasanya hanya dijajakan pada malam hari seperti layaknya kelelawar yang selalu keluar saat senja tiba.

Sate kalong terdiri dari dua menu pilihan, yaitu daging yang ditumbuk halus dan diberi bumbu yang berasa manis seperti dendeng, serta sate yang terdiri dari potongan-potongan kecil daging atau yang diberi bumbu yang berasa asin dan gurih. Dalam penyajiannya, setelah sate ini usai dibakar kemudian disiram oleh bumbu yang berupa sambel oncom yang hangat, karena selalu dihangatkan dalam pendil yang diletakkan diatas perapian.

Biasanya sate kalong dijajakan dengan berkeliling menggunakan pikulan yang dilengkapi dengan klenengan kecil/lonceng, untuk menandakan bahwa sate tersebut lewat. Sate kalong sangat nikmat dimakan selagi hangat, karena selain rasa manis, pedas dan gurihnya yang menyatu di lidah, aroma harum yang ditimbulkan oleh sate ini, akan menambah cita rasa kita dalam menyantapnya.

Namun sayang, keberadaan sate kalong di Cirebon saat ini sulit sekali dijumpai, bisa dikatakan keberadaan sate ini telah tergusur oleh sate lainnya seperti sate ayam maupun sate kambing. Ini dikarenakan karena sate kalong yang memang ukurannya satenya kecil-kecil lebih sedap disantap sebagai camilan ketimbang sebagai menu makanan utama. Salah satu tempat yang masih menjual sate kalong adalah di Pujamari (Pusat Jajan Malam Hari) yang terletak di Jl. Lemah Wungkuk Kanoman. Namun sate ini tidak lagi dijajakan dengan menggunakan pikulan, tetapi menggunakan gerobak yang mangkal di tempat tersebut. Walaupun begitu, cita rasa tradisionalnya yang lezat tetap terjaga. (ysg)

Tuesday, April 12, 2011

Menikmati Jejak Sejarah di Panjunan


 
 Mendung memayungi sore di Kota Cirebon, membuat suasana Kota Cirebon menjadi sedikit berbeda. Udara panas yang biasanya masih menyengat untuk sementara tergantikan dengan udara dingin yang sejuk. Suasana yang berbeda juga kami rasakan saat memasuki Kelurahan Panjunan, sebuah perkampungan kuno yang terletak di pusat Kota Cirebon. Dikatakan sebagai perkampungan kuno, karena Kelurahan Panjunan memiliki sejarah yang panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan sejarah Islam di Pulau jawa khususnya di Cirebon.

Sejarah Panjunan bermula saat seorang Pangeran Arab dari Baghdad yang bernama Maulana Abdul Rahman datang ke Cirebon untuk berguru Agama Islam kepada Sunan Gunung Djati. Sang pangeran beserta keluarga dan rombongannya dari Baghdad memutuskan untuk menetap di suatu tempat yang letaknya tidak jauh dari Pusat Kerajaan Cirebon. Selain belajar dan mengembangkan agama Islam, sang pangeran dan para pengikutnya juga bekerja sebagai pengrajin gerabah atau keramik sebagai mata pencaharian mereka, karena itulah sang pangeran mendapat julukan Pangeran Panjunan dan daerah yang mereka tempati kemudian dikenal dengan nama Panjunan. Kata Panjunan diambil dari kata Jun yang berarti keramik. Walaupun di sini sudah tidak ada lagi pengrajin gerabah, namun sampai saat ini  terdapat beberapa warga yang masih eksis mencari nafkah sebagai pedagang gerabah.

Kelurahan Panjunan juga dikenal sebagai Kampung Arab, karena di daerah ini banyak terdapat warga keturunan Arab yang sudah tinggal secara turun temurun sejak Pangeran Panjunan dan para pengikutnya menempati daerah ini.

Di Panjunan juga masih dapat kita jumpai jejak-jejak sejarah kota Cirebon, seperti Masjid Merah, yaitu sebuah Masjid tua yang didirikan pada tahun 1453, jauh lebih tua dari Masjid Agung Keraton Kasepuhan Sang Cipta Rasa yang didirikan pada tahun 1549. Masjid Merah didirikan pada masa-masa awal perkembangan Agama Islam di Cirebon. Dikatakan Masjid Merah, karena hampir seluruh dinding masjid dan tembok pagarnya di dominasi warna merah mencolok. Arsitektur masjid ini masih kental dengan nuansa arsitektur Hindu-Budha Majapahit. Jejak-jejak hubungan antara Cirebon dengan kekaisaran China pada masa itupun, masih jelas terlihat pada beberapa keramik yang tertanam baik di bagian tembok pagar masjid maupun di bagian dalam masjid. Masjid yang ukurannya tidak terlalu luas ini juga memiliki gapura khas Cirebon pada pintu gerbangnya, sehingga menambah masjid ini semakin menarik.

Tidak hanya potensi wisata sejarah saja yang terdapat di daerah ini. Panjunan juga menyimpan potensi lain, yaitu wisata kuliner, tidak jauh dari Masjid Merah terdapat penjual mi koclok, yang telah berjualan sejak puluhan tahun yang lalu. kuliner khas Cirebon yang terbuat dari mi kuning, dengan kuah putih kental dan gurih yang terbuat dari beras dan santan, di tambah dengan sisiran daging ayam dan irisan telur rebus. Membuat makanan ini terasa begitu lezat, apa lagi sambalnya yang dapat menambah selera makan kita bertambah lahap. Pada sore hari, di seberang pedagang mi koclok juga biasanya dapat kita temui pedagang jajanan pasar, seperti arem-arem, naga sari, koci dan jajanan pasar lainnya yang cocok kita bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk di rumah.

Saat berada di Cirebon berkunjung ke Panjunan adalah sebuah pilihan yang tepat, karena di sini kita bisa mendapatkan perpaduan wisata yang cukup menarik. Selain karena aksesnya yang cukup mudah, kita juga dapat menikmati lezatnya mi koclok sambil menikmati suasana sore di perkampungan Arab dengan berlatar belakang masjid kuno nan eksotik. (ysg)

Monday, April 11, 2011

MATA LENSA #1

SADAR PAJAK. Saat kesadaran membayar pajak sudah menjadi hal yang diabaikan di negeri ini. Justru seorang tukang becak, yang mungkin saja bukan seorang wajib pajak, mencoba mengingatkan kita tentang tanggung jawab membayar pajak melalui tulisan di atas kap becaknya.

Foto diambil di Jl.Lawang gada Cirebon (8/8/2010 17.15 WIB)
Camera: Canon PowerShoot A430

Anak-anak Mall berpayung



Di bawah derasnya hujan, tubuh-tubuh kecil dengan baju basah kuyup berdesak-desakan di teras sebuah mall, sambil menawarkan  payung yang mereka bawa pada pengunjung mall yang hendak keluar.

Itulah pemandangan yang biasa kita temui saat hujan turun di pelataran parkir Grage Mall Cirebon. Mereka adalah anak-anak dari daerah sekitar mall yang berprofesi dadakan sebagai ojek payung saat hujan turun. Anak-anak tersebut tidak memperdulikan lagi tubuhnya yang basah kuyup, payung yang mereka bawa tidak digunakan untuk melindungi tubuh mungil mereka dari derasnya guyuran hujan, karena payung tersebut dibawa untuk disewakan kepada pengunjung yang hendak masuk maupun keluar mall. Harga sewanya pun cukup murah, yaitu hanya seribu rupiah sekali jalan.

Saat payung itu tersewa, anak-anak tersebut mengikuti orang yang menyewa payungnya dan membiarkan tubuhnya basah oleh hujan. Pihak Manajemen Grage Mall sendiri tidak mempermasalahkan keberadaan anak-anak tersebut, asalkan mereka tetap berada di luar teras mall dan tidak mengganggu akses keluar masuk pengunjung.

Keberadaan anak-anak ojeg payung tersebut menjadi sebuah pemandangan yang sangat kontras, diantara mall mewah yang gemerlap dan mobil-mobil mulus yang terparkir di bawah derasnya hujan. (ysg)