Showing posts with label keraton. Show all posts
Showing posts with label keraton. Show all posts

Sunday, August 5, 2012

Menikmati Perpaduan Budaya di Keraton Kasepuhan Cirebon


Saat ini (5/8/12) cuaca di Cirebon sangat panas dan kering, karena sedang berhembus angin kumbang yaitu angin yang membawa udara kering yang biasa berhembus di wilayah Cirebon hingga Tegal pada Bulan Agustus setiap tahunnya. 

Untuk mengurangi pengaruh hawa panas dari angin kumbang tersebut, Cirebon Insight memutuskan untuk berjalan-jalan ke Keraton Kasepuhan, yaitu sebuah keraton tertua dan termegah di Cirebon. Keraton ini dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. 

Pada awalnya Keraton Kasepuhan bernama Keraton Pakungwati, nama tersebut diambil dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua.

Disebelah Timur Keraton terdapat bangunan yang cukup tinggi Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Bangunan tersebut dikelilingi dengan tembok bata tua atau terracota yang masih kokoh, tembok tersebut memiliki gapura bergaya bentar sebagai pintu masuknya. Gapura bentar adalah gapura khas kerajaan Majapahit, konon bentuk Keraton Pakungwati pada awalnya mengadopsi bentuk istana Trowulan Majapahit. Hal unik lainnya pada tembok tersebut adalah terdapat ornamen berupa piringan keramik yang berasal dari Cina dan Eropa yang tertanam hampir di sepanjang tembok gapura.

Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang bernama Alun-alun Sangkala Buana. Dahalu di alun-alun tersebut setiap hari Sabtu selalu digelar latihan keprajuritan yang disebut dengan Saptonan. Di alun-alun tersebut juga dijadikan tempat untuk melaksanakan hukum pidana Islam, seperti hukum cambuk bagi masyarakat yang bersalah. 

Di Sebelah Barat Alun-alun tersebut berdiri sebuah masjid yang usianya tidak jauh berbeda dengan Istana Pakungwati, yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid ini memiliki keunikan dengan dikumandangkannya Adzan Pitu, yaitu Adzan (panggilan sholat) yang disuarakan bersama tujuh orang muadzin sekaligus.

Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan atau yang disebut Kompleks Siti Inggil,  kita akan menemui dua buah pendopo, yang terletak di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton dan lurah, sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.

Setelah Melewati gerbang atau disebut juga regol akan tampak halaman luas di tengah halaman tersebut tampak patung dua ekor macan putih yang disebut juga dengan Macan Ali, yang menjadi lambang dari Keraton kasepuhan, juga menjadi simbol dari keraton lainnya di Cirebon. Di belakang patung tersebut tampak bangunan utama berwarna putih. Bangunan tersebut bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman.

Dibelakang bangunan tersebut terdapat beberapa ruangan yang termasuk ruangan utama yang sering dijadikan kegiatan kenegaraan Sultan kasepuhan, seperti Bangsal Pringgodani dan Bangsal Panembahan yang merupakan ruangan utama tempat Sultan menerima tamu kenegaraan ataupun mengadakan rapat-rapat penting bersama para petinggi keraton.

 Dalam bangsal panembahan kita akan kembali disuguhkan pemandangan yang luar biasa dari perpaduan beberapa budaya, seperti Jawa, Arab, China dan Eropa. Seperti lukisan dan lampu gantung yang berasal dari Eropa, maupun ornamen bunga lotus/teratai merah pada dingding Bangsal Panembahan yang mewakili budaya China.

Di dalam komplek Keraton kasepuhan kita juga dapat menemukan dua buah musium keraton, musium di sebelah barat adalah musium yang berisikan benda-benda pusaka keraton, seperti alat musik yang terdiri dari gending dan gamelan, perlengkapan perang mulai dari keris, tombak, baju jirah serta beberapa meriam dari portugis dan somalia. 

Sedangkan musium di sebelah timur adalah musium Singa Barong, yang berisi kereta pusaka keraton Kasepuhan yang merupakan perwujudan beberapa mahluk yang bertubuh singa, berkepala naga, berbelalai gajah serta bersayap garuda. Kereta pusaka ini tersimpan rapih dalam musium tersebut dan hanya dikeluarkan pada bulan syawal untuk di jamas atau dibersihkan.

Untuk memasuki Keraton Kasepuhan, kita hanya perlu merogoh kantong sebesar Rp 5.000,- saja itupun sudah termasuk jasa pemandu wisata yang juga merupakan abdi dalem Keraton Kasepuhan. Sedangkan untuk memasuki kompleks Siti Inggil kita tidak dipungut biaya sepeserpun. Dalam kompleks Siti Inggil yang sejuk ini kita masih bisa merasakan suasana Istana Trowulan Majapahit.

Keraton Kasepuhan terletak di Jl Lemah Wungkuk Cirebon, letaknya tidak jauh dari Pasar Kanoman (keraton Kanoman). Banyak akses transportasi dari Stasiun Kejaksan Cirebon dan  Stasiun Prujakan, maupun dari Terminal Harjamukti Cirebon kita dapat menggunakan becak maupun angkot. Untuk ongkos becak dari Stasiun Kejaksan dan Prujakan sekitar Rp 15.000,- dan dari Terminal Harjamukti sekitar Rp 20.000,-. Sedangkan untuk angkot, dari ketiga “gerbang masuk” kota Cirebon tersebut, perlu setidaknya dua kali ganti angkot dengan ongkos Rp 2.500, sekali jalan. (ysg)

Saturday, August 4, 2012

Tabuh Bedug Masjid Sang Cipta Rasa


Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan (Cirebon Insight)
Ada tradisi unik dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang digelar selama bulan Ramadhan. Masjid Tua peninggalan Sunan Gunung Jati yang terletak di Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon ini, selama bulan Ramadhan menggelar Tradisi Dugdag, yaitu tradisi tabuh bedug yang digelar setiap malam sekitar pukul 23.00 usai tadarusan (membaca Al Qur’an) hingga menjelang waktu imsyak yaitu pukul 04.30.
Menabuh dugdag menjelang imsyak (Doc. SCTV)
Menurut H. Sobari, sesepuh Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Tradisi yang sudah berlangsung sejak abad 14 ini pada awalnya bertujuan untuk mengabarkan waktu sholat 5 waktu dan datangnya bulan Ramadhan, namun saat ini tabuh dugdag hanya digelar selama bulan Ramadhan saja. Dengan tujuan mengingatkan/membangunkan warga untuk sholat malam di masjid dan untuk sahur.
Menabuh bedug dalam tabuh dugdag tidaklah sembarangan, dalam dugdag ada tiga irama tabuh bedug yang harus dibunyikan, karena itu untuk menghindari kesalahan para penabuh dugdag yang rata-rata menabuh selama 20 menit, diberikan kesempatan sebelumnya untuk berlatih, agar tidak terjadi kesalahan irama saat menabuh. Sebelum menabuh bedug, para penabuh bedug juga diwajibkan untuk bersuci/berwudlu layaknya hendak mendirikan sholat.
Seperti halnya kebanyakan tradisi, tabuh dugdag juga tidak lagi populer dikalangan generasi muda. Rata-rata penabuh dugdag saat ini sudah berusia lanjut. Sebut saja Muhamad Rifai yang sudah menabuh dugdag selama 50 tahun, menurutnya generasi muda saat ini sudah tidak lagi tertarik dengan tradisi dugdag, mereka lebih menarik dengan tradisi modern, walaupun tradis tersebut kurang bermanfaat. (ysg)

Sunday, September 11, 2011

Membangkitkan Kembali Tari Bedaya Kajongan dari Tidur Panjang


                                                                                  Foto: Pikiran Rakyat Online
“Di Keraton Kanoman akan digelar pentas tari Kajongan besok malam” begitulah bunyi pesan singkat yang aku terima pada tanggal 9 September 2011 dari Masham, seorang teman yang juga seorang fotografer yang aktif sebagai Citizen Journalist. Dalam benakku langsung terlintas dukuh Kajongan yang terletak di Purbalingga Jawa tengah. Ternyata dugaanku itu salah, Kajongan adalah salah satu tarian Cirebon yang hampir punah. Pantas saja banyak orang yang tidak mengetahuinya, termasuk orang Cirebon sendiri. Karena tarian ini terakhir di pentaskan pada tahun 1948, itu pun khusus digelar di depan keluarga keraton saja.

Tari Bedaya Kajongan adalah tarian yang diciptakan pada masa Sultan Kanoman VIII, yaitu Sultan Raja Dzoelkarnaen yang memimpin sekitar abad ke -17. Tari kajongan mengutarakan tentang filosofi perang yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral, etika sosial serta sejarah yang sarat dengan falsafah kehidupan. Tarian ini dibawakan oleh penari wanita yang selalu berjumlah genap (biasanya dua orang penari) yang menari dengan membawa senjata jenis gada sebagai simbol perang. Namun karena tari ini hanya boleh ditonton oleh keluarga keraton, dimana para penarinya juga masih keluarga keraton yang dilarang menurunkan ilmunya di luar garis keluarga keraton, maka lambat laun Tari Bedaya Kajongan semakin terlupakan dan berada di ambang kepunahan.

Melihat kondisi tersebut, keraton kanoman berupaya membangkitkan kembali Tari Kajongan dari tidur panjangnya. Pada tahun 2009 Sultan Kanmoman XII, Sultan Raja Mochamad Emirudin menitahkan kepada Pangeran Raja Kodiran dan Ratu Raja Arimbi Nurtina untuk merumuskan gagasan revitalisasi seni dan melakukan penelusuran Tari Bedaya Kajongan. Maka sejak tahun 2009 dimulailah “penggalian”  kembali Tari Bedaya Kajongan, dengannkajian bersama antara penari dan para penabuh gamelannya, hingga dapat ditelusuri kembali koreografi tarian, musik dan desain busananya.

Berbekal dari perumusan tersebutlah, maka dimulailah latihan rutin Tari Bedaya Kajongan, yang ditarikan oleh dua orang penarinya yaitu, Ratu Min dan Raden Anah yang sudah sekitar 20 tahun berhenti dari dunia seni tari. Hingga pada hari Sabtu, 10 September 2011 Tari Bedaya kajongan kembali di pentaskan di Bangsal Jinem Keraton Kanoman pada pukul 20:00. Kali ini tidak hanya di pentaskan di depan keluarga keraton kanoman saja, tapi di saksikan pula oleh  perwakilan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, sekitar 50 undangan  negara sahabat, seniman, agamawan, dan perwakilan media massa.

Semoga pementasan Tari Bedaya Kajongan tersebut menjadi awal kebangkitan kesenian Cirebon lainnya yang sampai saat ini masih berada di ambang kepunahan, seperti Rimbe, Gododan, Golekan, Kembang, Perang Keris, Tumenggung, dan Rahwana Gandrung (ysg)



Monday, July 25, 2011

Lirikan Mata Lukisan Prabu Siliwangi

Sebuah lukisan besar bergambarkan seorang raja yang tegap berdiri bersama seekor harimau loreng, terpampang di salah satu sudut museum benda-benda pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Warnanya yang di dominasi coklat dan keemasan membuat lukisan besar berukuran 1,5 m x 1 m tampak mencolok diantara benda-benda pusaka di sekitarnya.

“Ini adalah lukisan Prabu Siliwangi, kakek dari P. Cakrabuana pendiri Cirebon.” Jelas Pak Satu, salah satu Abdi Dalem Keraton Kasepuhan yang bertugas sebagai pemandu wisata. Dijelaskan oleh Pak Satu, lukisan ini di lukis oleh seorang pelukis asal Garut sekitar setahun yang lalu, tidak diketahui pasti nama dan identitas lengkap dari pelukis tersebut. Lukisan Prabu Siliwangi ini di buat berdasarkan mimpi sang pelukis, yang mengaku mendapatkan wangsit untuk melukis Sang Prabu dan memberikannya secara gratis kepada Keraton Kasepuhan.

Menurut Pak Satu, ini seperti lukisan tiga dimensi. “Kemana pun kita bergerak mata Sang Prabu dalam lukisan tersebut seperti mengikuti kita.” jelasnya sambil menggeser posisi badannya ke sebelah kanan dan kiri lukisan. Karena keunikan tersebutlah banyak pengunjung yang tertarik melihatnya berlama-lama. Bahkan tidak sedikit para pelukis yang membuat lukisan tiruannya, karena mereka menilai lukisan Prabu Siliwangi tersebut sebagai lukisan antik. Tapi tidak sedikit pula pengunjung yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang biasa. “ada juga yang hanya mengaggap ini sebagai sugesti saja.” tambah Pak Satu.

Keberadaan lukisan tersebut ternyata berdampak positif bagi pengunjung, karena dengan adanya lukisan tersebut, mendorong para pemandu untuk bercerita tentang Prabu Siliwangi dan hubungannya dengan sejarah Cirebon, sehingga memberikan pengetahuan sejarah tambahan bagi para pengunjung Keraton Kasepuhan. (ysg)

Friday, July 22, 2011

Suling Pelog Berusaha Menembus Zaman

Diantara keramaian suasana di Alun-alun Keraton Kasepuhan, sayup-sayup terdengar alunan suling bambu. Padahal para pemusik di atas panggung pementasan masih bersiap-siap, saat itu belum ada diantara mereka yang memainkan alat musiknya. Penasaran dengan hal ini, saya berusaha mencari tahu dari mana asal suara alunan suling tersebut.

Ternyata tak jauh dari sebelah kanan penggung, tampak seorang lelaki tua sedang asyik memainkan suling bambunya, tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sebuah rak dengan berbagai ukuran  suling bambu tergantung di sana.

Dialah Pak Syuaib, lelaki berusia 45 tahun asal Desa Cipeujeuh Kecamatan Susukan Lebak Kabupaten Cirebon. Lelaki ini selain seorang pengrajin suling bambu, dia juga seorang peniup suling yang handal, yang sangat piawai dalam memainkan suling untuk mengiringi gamelan Cirebon.

Pak Syuaib adalah sosok yang bersahabat, saat ditanya tentang suling yang ditiupnya, dengan ramah ia memberikan penjelasan tentang tingkatan nada-nada suling yang biasa mengiringi gamelan Cirebon seperti Degung, Pelog dan Salendro. Ia juga menjelaskan jenis-jenis suling yang berbeda untuk memainkan nada-nada tersebut. Dia juga tanpa sungkan-sungkan menguraikan bagaimana suling-suling tersebut dibuat dengan tangannya sendiri. Dengan gamblang ia menjelaskan kelebihan lubang suling yang dibuat dengan menggunakan bor, seperti yang ia buat dibanding dengan menggunakan api.

Tanpa sungkan-sungkan Pak Syuaib menunjukkan kepiawaiannya dalam meniupkan suling dalam berbagai nada. Beberapa orang datang, melihat-lihat suling dagangannya, beberapa diantaranya mengajukan penawaran dengan harga yang rendah, namun Pak Syuaib hanya tersenyum ramah dan kembali melanjutkan alunan sulingnya, dengan nada yang rendah, kadang meninggi dan kembali rendah. Suara sulingnya mengalun bersama tiupan angin malam, merambah setiap sudut  Alun-alun Keraton Kasepuhan, menembus hiruk pikuknya keramaian.

 Saya hanya tersenyum melihatnya, sambil berharap dalam hati, semoga sulingmu tetap mengalun di tengah-tengah “zaman ringtone” ini... (ysg)

Semarak Gebyar Budaya Cirebon



Ada pemandangan yang berbeda di Alun-alun Keraton Kasepuhan, sebuah panggung pertunjukan bergaya Gapura Bentar berdiri di sana, mementaskan beragam tarian daerah Cirebon dan beberapa tarian daerah lainnya dari berbagai wilayah nusantara. Itulah Gebyar Budaya Daerah yang menjadi bagian dari Festival Cirebon 2011, yang merupakan hajat Lembaga Kebudayaan Cirebon (LKC) bersama Pemerintah Kota Cirebon.  

Acara yang digelar selama satu minggu itu (11-16 Juli 2011) bertujuan untuk memberdayakan sosok budaya daerah yang merupakan potensi etnis Indonesia dan jati diri bangsa, serta untuk menjungjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, sekaligus mempromosikan budaya daerah guna meninggikan nilai jual budaya. Selain itu juga bertujuan untuk memacu sektor perekonomian lokal, khususnya yang berbasis pada seni dan budaya.

Acara tersebut dibuka dengan parade/arak-arakan budaya yang dimulai dari Balai Kota Cirebon di Jl. Siliwangi Cirebon dan berakhir di  Alun-alun Keraton Kasepuhan. Sedangkan untuk pentas budaya di gelar setiap malam. Di panggung bergaya Gapura Bentar tersebut berbagai kesenian khas Cirebon dipentaskan, seperti tari topeng, sintren, tarling dan wayang kulit. Selain itu juga turut dipentaskan kesenian lain dari sekitar wilayah Cirebon, seperti Rampak Genjring dari Kuningan, Longser dari Majalengka dan Tari Randu Kentir dari Indramayu. Masyarakat juga disuguhi pentas tari dari daerah nun jauh dari Cirebon, seperti tari Payung dari Minang dan tari Pendet dari Bali.


Bagi sebagian besar masyarakat Cirebon sendiri, pertunjukkan seperti ini merupakan pertunjukkan yang cukup langka digelar. Karena itu antusias warga cukup besar untuk menyaksikan Festival Cirebon tersebut. Sebut saja dalam pementasan tari topeng, tari yang menjadi “simbol” Cirebon ini sangat dinanti oleh Masyarakat Cirebon sendiri. Sebut saja tari Topeng Klana Bandowati gaya Losari ataupun Tari Topeng Klana Tiga Generasi gaya gegesik, cukup banyak diminati oleh warga.

“Ini adalah kesempatan bagi saya untuk memperkenalkan budaya Cirebon pada anak-anak saya.” tutur Sopyan, pegawai swasta asal Sumber, Kabupaten Cirebon yang sengaja datang untuk menyaksikan Tari Topeng Klana, beseta dua orang anaknya yang masih duduk di bangku SD.

Pegelaran tari yang didukung dengan tata cahaya yang baik tersebut berhasil menyajikan sebuah hiburan yang menarik bagi masyarakat Cirebon. Design panggung yang identik dengan gapura Keraton Kasepuhan itu semakin tampak hidup dibawah cahaya sinar bulan purnama.

Selain panggung pementasan, di  Alun-alun Keraton Kasepuhan juga berdiri tenda-tenda/stand yang menjual berbagai produk kerajinan khas Cirebon, seperti batik, lukisan, topeng, serta baju-baju/kaos bertemakan Cirebon. (ysg)

Friday, June 3, 2011

Menelusuri Jejak Perlawanan di Keraton Kacirebonan


Memasuki gerbang keraton Kacirebonan pada hari jadi keraton termuda di tanah Cirebon tersebut, membuatku berpikir untuk membandingkannya dengan keraton lainnya di wilayah Cirebon. Seperti Kasepuhan dan Kanoman, pada keraton Kacirebonan tidak kita ketemui gapura gaya bentar khas Majapahit sebagaimana yang dapat kita ketemui di dua keraton lainnya maupun yang tersebar di seluruh gedung perkantoran dan sekolah di Cirebon.

Pada Keraton Kacirebonan yang kita ketemui adalah tembok tinggi dengan gerbang tak bergapura, hanyalah pintu besar yang dihiasi atap joglo di atasnya. Kacirebonan yang juga merupakan keraton terkecil di Cirebon ini lebih mirip dengan bangunan padukuhan atau rumah-rumah adipati pada masa kerajaan dulu.


Namun begitu, Kacirebonan juga memiliki sejarah panjang dengan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Berdirinya Keraton Kacirebonan tak lepas dari ulah kolonial Belanda dalam memecah belah kekuatan pribumi saat itu. Berawal dari perjanjian yang dibuat antara Belanda dan Cirebon pada masa pemerintahan Sultan Anom IV Muhammad Khaeruddin, yang isinya secara langsung memperlemah kekuasaan sultan Cirebon dan menyengsarakan rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang tidak populer, seperti sistem tanam paksa (cultuur stelsel) pajak yang sangat tinggi dan sangat mencekik rakyat, serta campur tangan belanda terhadap urusan keraton yang dinilai melecehkan kewibawaan sultan dan keraton.

Adalah Pangeran Raja Kanoman beserta para putra sultan lainnya, seperti Pangeran Raja Kabupaten dan Pangeran Raja Laut.  Mereka secara tegas dan berani menentang campur tangan Belanda terhadap kebijakan keraton, yang memaksa keraton untuk tidak memihak kepada rakyatnya. Hal ini membuat pemerintah kolonial geram dan pada tahun 1762 memaksa para pangeran tersebut keluar dari lingkungan keraton, dengan mencabut gelar dan tahta waris mereka.

Setelah tersisih dari kehidupan keraton, Pangeran Raja Kanoman hidup berbaur bersama rakyat di kawasan Pesantren Buntet yang saat itu dipimpin oleh Mbah Muqoyim salah satu tokoh agama keraton yang juga memilih untuk mengabdi dari luar keraton. Keberadaan sang pangeran di tengah-tengah rakyatnya, selain menimbulkan simpati juga telah membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Karena itu disamping menuntut ilmu agama, sang pangeran pun menyusun kekuatan perlawanan rakyat yang di sokong oleh kekuatan santri.
Pada tahun 1802, serentetan pertempuran pun terjadi setelah itu. Dari pertempuran-pertempuran kecil hingga pertempuran besar, seperti perang Kedongdong yang membuat Belanda kewalahan dan rugi ratusan juta Gulden. Hingga harus meminta bantuan bala tentara Portugis untuk meredam perlawanan rakyat dan para santri.

Akhirnya pasukan Belanda berhasil membumi hanguskan Pesantren Buntet dan menangkap Pangeran Raja kanoman beserta para saudaranya. Untuk meredam perlawanan rakyat Belanda mengadili sang pangeran di Batavia kemudian membuangnya ke Ambon.

Tapi taktik Belanda tersebut tidak menyurutkan perlawanan rakyat. Berbeda dengan perlawanan rakyat di wilayah nusantara lainnya, yang menjadi api dalam sekam saat sang pemimpin perlawanan berhasil ditaklukan oleh siasat licik kolonial Belanda. Perlawan rakyat Cirebon justru semakin membara. Bukan saja protes rakyat hingga ke Batavia yang memusingkan Belanda, tapi pertempuran kecil yang terjadi serentak di hampir seluruh wilayah Cirebon, telah memusingkan Belanda, hingga pasukan mereka kocar kacir dan terpaksa menyingkir dari wilayah Cirebon.

Hingga pada akhirnya, Gubernur Berlanda untuk wilayah Jawa Tengah Bagian Utara, Nikolas Engelhard, memutuskan untuk mengambil jalan damai dan mengadakan perundingan pada tanggal 18 Agustus 1806,yang hasilnya memutuskan untuk mengembalikan Pangeran Raja Kanoman ke tahtanya. Hal ini baru terlaksana setahun berikutnya yaitu pada tahun 1807.

Tulisan Tangan Gubernur Daendels
Melalui Surat Keputusan 13 Maret 1808, Gubernur Jendral Belanda, Daendles melantik Pangeran Raja Kanoman  sebagai sultan yang ke tiga,dengan gelar Sultan Carbon Amirul Mukminin Mukhammad Khaeruddin. Dengan wilayah kekuasaan meliputibatas kali sukalila sampai perbatasan Kadipaten, utara sampai batas kali bengawan wetan, Kulon termasuk kandanghaur dan kabupaten Indramayu. Dengan beberapa pembatasan hak kekuasaan oleh Belanda, seperti ia tidak diperkenankan meneruskan tahta Sultannya kepada turunannya alias hanya pada dirinya sendiri (Sepanjenengan Kiwala ).

Sifat perlawanan Sang Pangeran tidak luntur begitu saja walaupun Belanda telah mengembalikan haknya sebagai sultan. Ia melarang rakyatnya mematuhi aturan tanam paksa belanda, hingga menyebabkan belanda merugi dan membuat Daendels geram. Hingga sang Gubernur Jendralpun mengeluarkan keputusan yang menjadikan sultan sebagai Ambtenaren Van Zijne Majesteit den Koning Van Holland ( pegawai Sri baginda Raja Holland ) dan pemerintah mengeluarkan Reglement 1809 yang mengatur pengelolaan daerah Cirebon.

Namun sang Pangeran tetap saja tidak mau menempatkan dirinya sebagai bawahan Belanda, beliau tetap memberontak terhadap aturan-aturan belanda. Akhirnya Belanda melakukan tindakan tegas dengan memecat Pangeran Raja Kanoman pada tanggal 2 Maret 1810.

Empat tahun kemudian (1814) Sultan Carbon Kacirebonan Amiril Mukminin Wafat dan kepemimpinan Sultan Carbon dilanjutkan oleh Permasuari Ratu Sultan Gusti Resminingpuri atas izin Belanda. Pada tahun 1815, sang Ratu meindahkan keratonnya dari Sunyaragi ke Pulasaren hingga saat ini. (ysg)

*) ditulis dari berbagai sumber

Perang Kedongdong Bukti Heroisme Para Santri


Ilustrasi pertempuran melawan Belanda (Doc: Istimewa)
Sebuah pertempuran besar luput dari catatan sejarah nasional. Pertempuran tersebut terjadi di Kedongdong (1753-1773), tujuh belas tahun sebelum pecahnya perang Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan Perang Jawa.

Kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menetapkan pajak dengan nilai tinggi kepada rakyat, dinilai sebagai kebijakan yang sangat mencekik, karena saat itu rakyat berada pada kondisi yang miskin dan serba kesulitan. Kebijakan ini mendapatkan tentangan yang sangat kuat dari rakyat, khususnya kaum santri. Saat itu mulailah terjadi perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Pergolakan melawan belanda bertambah hebat, Setelah Pangeran Suryanegara, Putra Mahkota Sultan Kanoman IV menolak tunduk terhadap perintah kolonial Belanda. Ia memutuskan untuk keluar dari keraton dan bergabung bersama rakyat untuk melakukan perlawanan.

Di bawah pimpinan sang pangeran, semangat rakyat semakin membara sehingga pemberontakan sengit terjadi di mana-mana. Pasukan Belanda pun semakin terdesak, mereka mengalami kekalahan perang yang sangat besar, bukan saja kehilangan ribuan nyawa prajuritnya, tapi juga kerugian sebesar 150.000 Gulden untuk mendanai perang tersebut.

Dalam keadaan putus asa Menghadapi perlawanan rakyat di bawah pimpinan Pangeran Suryanegara, Belanda pun meminta tambahan pasukan, bahkan Belanda pun meminta bantuan dari pasukan Portugis yang berada di Malaka, untuk membantu mereka meredam perlawanan rakyat Cirebon.

Kedatangan enam kapal perang yang mengangkut bala bantuan pasukan Belanda, yang di dukung oleh kekuatan tentara portugis di Pelabuhan Muara Jati, tidak membuat ciut perlawanan rakyat. Justru sebaliknya semangat perlawanan mereka semakin menjadi. Pertempuran besar-besaran terjadi di Desa Kedongdong Kecamatan Susukan. Dalam pertempuran tersebut ribuan nyawa melayang, baik di pihak rakyat maupun Belanda.

Setelah menjalani pertempuran selama dua puluh tahun (1753-1773), akhirnya Belanda sadar bahwa mereka tidak bisa menghadapi perlawanan rakyat secara frontal. Merekapun mencari cara untuk melumpuhkan semangat perlawanan rakyat. Salah satu caranya adalah menangkap Pangeran Kanoman, karena dibawah kepemimpinan sang pangeran semangat perlawanan rakyat semakin berkobar.

Akhirnya dengan segala tipu dayanya yang licik, Belanda dapat menangkap Pangeran Kanoman tersebut. Belandapun menahannya di Batavia, kemudian mengasingkannya di Benteng Victoria Ambon. Bukan itu saja, Belanda juga mencabut gelar dan hak kebangsawanan Pangeran Kanoman. Setelah ditangkapnya sang pangeran, perlawanan rakyat semakin melemah. Sedikit demi sedikit pasukan Belanda berhasil menguasai pertempuran.

Walaupun luput dari catatan sejarah nasional, Perang Kedongdong ternyata memiliki arti tersendiri bagi Belanda. Pertempuran yang memakan kerugian besar bagi Belanda, baik harta maupun nyawa itu, telah ditulis dalam sebuah kisah naratif oleh seorang prajurit Belanda bernama Van Der Kamp. Tulisan asli Van Der Kamp saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Belanda.

Perlawanan yang diberikan oleh Pangeran Suryanegara beserta rakyat Cirebon dalam Perang Kedongdong, dapat kita setarakan dengan sengitnya perlawanan yang di berikan oleh Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol maupun Cut Nyak Dien. Karena itu sudah sepantasnya pertempuran tersebut di catat dalam sejarah sebagai pertempuran yang bersifat nasional bukan hanya sekedar pertempuran masyarakat lokal. (ysg)




Ulang Tahun Keraton Kacirebonan: Merayakan Kembali Semangat Perjuangan Rakyat


Meriam alteleri berukuran besar mengawal gerbang keraton Kacirebonan, dengan beberapa orang tentara bersiaga di dekat meriam tersebut. Sebuah pemandangan yang tidak biasa di halaman Keraton Kacirebonan yang biasanya sepi lengang.

Bukan hanya itu saja, sebuah panggung kecil berdiri tak jauh dari meriam tersebut. Beberapa penari cilik dengan lincah  bergantian membawakan tari topeng kelana di atas panggung tersebut. Pemandangan yang tidak biasa ini ternyata adalah bagian dari perayaan ulang tahun Kacirebonan yang ke 203 tahun.

Keraton termuda di Wilayah Cirebon yang resmi berdiri pada tahun 1808 tersebut, pada tanggal 20 Mei hingga 23 Mei 2011 yang lalu menyelenggarakan pesta ulang tahun, yang bernafaskan semangat perjuangan Keraton Kacirebonan bersama rakyat, sebagaimana sejarah awal berdirinya Keraton Kacirebonan.

Dalam perayaan yang digelar selama tiga hari tersebut, keraton kacirebonan menampilkan beberapa stand pameran yang beragam. Selain menampilkan panggung kesenian dari kelompok kesenian Sekar Pandan Asuhan Elang Heri. Juga menampilkan pameran persenjataan dari unsur militer seperti Angkatan laut dan Angkatan Darat. Bukan itu saja, Komunitas Tionghoa Cirebon juga turut mengambil peran daram perayaan tersebut. Mereka menampilkan pameran foto Cirebon tempo dulu yang mengangkat beberapa bangunan bersejarah komunitas tionghoa di Cirebon.

Di bagian bangsal Keraton Kacirebonan, digelar literatur-literatur kuno yang dimiliki oleh Keraton Kacirebonan. Ada yang bertuliskan huruf Jawa kuno dan ada pula bertuliskan huruf Arab. Literatur tersebut sudah cukup tua, beberapa diantaranya sudah berusia ratusan tahun. Menurut Rokhman, petugas dari Konservasi Budaya Cirebon, literatur-literatur yang dipamerkan tersebut, hanyalah sebagaian kecil literatur yang di miliki oleh Cirebon. Literatur-literatur lainnya tersebar di keraton-keraton Cirebon lainnya, bahkan ada yang dimiliki secara pribadi oleh perorangan. Namun dari sekian banyak literatur yang ada, masih sangat sedikit yang sudah dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi acuan sejarah budaya Cirebon.

Akta Pendirian Kacirebonan  
Selain literatur juga, turut dipamerkan akta pendirian Keraton Kacirebonan yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Gubernur Hindia Belanda, Daendels. Akta tersebut disimpan dengan perlindungan seadanya, yaitu hanya menggunakan laminating dari plastik mika. Namun begitu, tulisannya yang menggunakan tulisan tangan berbahasa Belanda masih cukup jelas terbaca, dengan stempel merah miliki Gubernur Hindia Belanda saat itu.

Dalam perayaan tersebut juga di pamerkan berbagai macam keris yang ada di pulau Jawa. Beberapa diantaranya adalah keris kuno yang telah berusia ratusan tahun dan selebihnya adalah keris-keris buatan masa kini. Namun menurut Mpunya, walaupun di buat di jaman modern, keris-keris tersebut tetap dibuat dengan laku ritual selayaknya keris-keris kuno, untuk mempertahankan budaya dalam pembuatan keris.

Tak jauh dari pameran keris di gelar, dua orang seniman batik dengan piawai menunjukkan keahliannya dalam membuat batik tulis. Tangan-tangan mereka cukup trampil dalam menorehkan canting di atas kain putih, hingga membentuk sebuah motif batik yang cukup indah. Kepiawaian mereka cukup menarik perhatian pengunjung, mereka berkerumun, berlomba untuk melihat lebih dekat tangan-tangan para pembatik itu beraksi. Bahkan pengunjung anak-anakpun dibuat terpesona dengan kemahiran para pembatik tersebut memainkan cantingnya. Gerak tangan mereka seolah-olah seperti sedang menari di atas kain. Begitu lincah, lembut dan menyisakan keindahan.

Bergeser sedikit dari stand pembatik, kita akan disuguhi pemandangan sepeda-sepeda onthel tua yang sangat klasik dan menarik. Selain memajang sepeda tua nan antik, stand yang dikelola oleh komunitas sepeda onthel “Cepot” juga memamerkan aksesoris sepeda onthel yang tidak kalah unik dan menarik.

Walaupun hanya sedikit dan sederhana ragam yang dipamerkan, perayaan ulang tahun Keraton Kacirebonan cukup mengingatkan kita akan manunggalnya Keraton Kacirebon dengan perjuangan rakyat melawan penjajah belanda, diawal berdirinya keraton termuda di Cirebon tersebut. Walaupun lebih di dominasi dengan pameran peralatan tempur, tidak ada kesan penjagaan ketat oleh para aparat yang bertugas di sana. Para pengunjung dapat bebas melihat persenjataan tersebut dari dekat. Bahakan tidak jarang ada pengunjung yang berpose dengan latar belakang peralatan tempur, seperti meriam anti pesawat udara milik AL.

Semoga dengan diadakan perayaan ulang tahun seperti ini. Akan semakin membantu peran keraton, khususnya Keraton Kacirebon untuk semakin memperkaya seni dan budaya yang hidup di tanah Cirebon. Sehingga masyarakat Cirebon tidak terputus akar budayanya, akibat terkikis dengan budaya-budaya asing yang semakin pesat mengambil hati kaum muda. (ysg)

Minimnya Referensi Sejarah Cirebon


Pernah mendengar kalimat The Gate of Secret? Yang jelas ini bukanlah judul film ataupun novel misteri. Bagi orang Cirebon, kalimat yang berarti Gerbang Kerahasiaan ini harus dibiasakan untuk diucapkaan ataupun didengar. Karena kalimat ini adalah branding yang akan disandang oleh Kota Cirebon untuk menjual potensi wisatanya. Branding/slogan ini diambil, karena Kota Cirebon dianggap menyimpan rahasia besar akan masa lalunya yang menarik untuk dijual ke para wisatawan, baik asing maupun domestik. Bisa dikatakan slogan tersebut akan mengantarkan kita untuk menapaki jejak sejarah di Kota Cirebon.

Ironisnya, banyak masyarakat Cirebon sendiri yang tidak mengetahui sejarah Cirebon. Bahkan saat ini sangat sulit sekali bagi kita untuk mencari referensi tentang sejarah Cirebon. Di Cirebon sendiri hanya sedikit sekali terdapat buku-buku mengenai sejarah Cirebon. Menurut pengamatan CIREBON insight, setidaknya ada dua buku yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui sejarah Cirebon. Pertama adalah buku berjudul Babad Tanah Sunda Babad Cirebon yang ditulis oleh P.S. Sulendraningrat dan sudah mengalami berkali-kali naik cetak dengan cover yang berbeda-beda. Buku inilah yang sering dijadikan referensi sejarah Cirebon.

Sayangnya, buku yang tidak mencantumkan nama penerbit ini, belum menggunakan ejaan yang sempurna, sehingga kita akan mudah lelah dalam membacanya. Buku lain yang dapat kita temukan adalah buku-buku yang berkisah tetang sejarah Sunan Gunung Jati, seperti buku yang berjudul Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati Dan Sekilas Riwayatnya yang di tulis oleh Hasan Basyari yang diterbitkan oleh Zul Fana Cirebon. Kesamaan dari kedua buku ini tidak dikemas secara eksklusif, tapi tampilannya lebih mirip dengan buku-buku stensilan.
Namun jangan harap dapat menemukan buku-buku tersebut di toko-toko buku. Buku-buku tersebut dapat kita jumpai di pedagang-pedagang buku kaki lima atau di lapak-lapak buku bekas. Itupun sangat sulit untuk mendaapatkannya. Hanya berapa tempat saja di Cirebon yang masih menjual buku-buku tersebut, seperti di depan Masjid Agung Kasepuhan dan di Situs Pemakaman Gunung Jati.

Sebenarnya masih banyak sejarah Cirebon yang belum tergali. Seperti yang dituturkan oleh Rokhman, petugas konservasi budaya Cirebon, saat ditemui di Stand Budaya HUT Kacirebonan beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, sebenarnya referensi sejarah Cirebon itu kaya, hal ini dapat dilihat dari banyaknya literatur/transkrip kuno yang belum tergali. Saat ini transkrip-transkrip tersebut tersebar di banyak “tangan”, ada yang dikoleksi oleh keraton, seperti Keraton Kacirebonan salah satunya ada pula yang tersebar di tangan perorangan.

Dari sekian banyak transkrip tersebut. Hanya sedikit transkrip yang telah dapat diterjemahkan, seperti transkrip Babad Cirebon. Ini dikarenakan semakin sedikitnya sumber daya manusia yang dapat menterjemahkan transkrip tersebut, karena ditulis dengan menggunakan huruf Jawa Kuno dan huruf Arab. Hal ini dipersulit dengan kpondisi transkrip yang mulai lapuk dimakan usia, yang membuat beberapa tulisan pudar bahkan tidak terbaca sama sekali.  Menurut Rokhman saat ini, pihak konservasi budaya sedang berupaya mendata semua transkrip yang ada dan berupaya untuk menterjemahkannya. “Apa yang kami lakukan seperti “menyusun puzzle”, menyatukan keping demi keping agar sejarah Cirebon tidak menjadi sejarah yang hilang.” Pungkasnya di sela-sela kesibukannya pada perayaan HUT Kacirebonan kemarin.

Dengan tekad kuat Pemerintah Kota Cirebon mengusung The Gate of Secret sebagai slogan wisata kota Cirebon, rasanya perlu bagi pemerintah untuk mensosialisasikan kembali sejarah Cirebon kepada warganya, agar warga Cirebon dapat maksimal mendukung slogan tersebut dan terutama lagi agar sejarah Cirebon tidak benar-benar menjadi rahasia yang sulit diungkap. (ysg)