Showing posts with label sejarah islam. Show all posts
Showing posts with label sejarah islam. Show all posts

Sunday, August 5, 2012

Menikmati Perpaduan Budaya di Keraton Kasepuhan Cirebon


Saat ini (5/8/12) cuaca di Cirebon sangat panas dan kering, karena sedang berhembus angin kumbang yaitu angin yang membawa udara kering yang biasa berhembus di wilayah Cirebon hingga Tegal pada Bulan Agustus setiap tahunnya. 

Untuk mengurangi pengaruh hawa panas dari angin kumbang tersebut, Cirebon Insight memutuskan untuk berjalan-jalan ke Keraton Kasepuhan, yaitu sebuah keraton tertua dan termegah di Cirebon. Keraton ini dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. 

Pada awalnya Keraton Kasepuhan bernama Keraton Pakungwati, nama tersebut diambil dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua.

Disebelah Timur Keraton terdapat bangunan yang cukup tinggi Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Bangunan tersebut dikelilingi dengan tembok bata tua atau terracota yang masih kokoh, tembok tersebut memiliki gapura bergaya bentar sebagai pintu masuknya. Gapura bentar adalah gapura khas kerajaan Majapahit, konon bentuk Keraton Pakungwati pada awalnya mengadopsi bentuk istana Trowulan Majapahit. Hal unik lainnya pada tembok tersebut adalah terdapat ornamen berupa piringan keramik yang berasal dari Cina dan Eropa yang tertanam hampir di sepanjang tembok gapura.

Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang bernama Alun-alun Sangkala Buana. Dahalu di alun-alun tersebut setiap hari Sabtu selalu digelar latihan keprajuritan yang disebut dengan Saptonan. Di alun-alun tersebut juga dijadikan tempat untuk melaksanakan hukum pidana Islam, seperti hukum cambuk bagi masyarakat yang bersalah. 

Di Sebelah Barat Alun-alun tersebut berdiri sebuah masjid yang usianya tidak jauh berbeda dengan Istana Pakungwati, yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid ini memiliki keunikan dengan dikumandangkannya Adzan Pitu, yaitu Adzan (panggilan sholat) yang disuarakan bersama tujuh orang muadzin sekaligus.

Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan atau yang disebut Kompleks Siti Inggil,  kita akan menemui dua buah pendopo, yang terletak di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton dan lurah, sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.

Setelah Melewati gerbang atau disebut juga regol akan tampak halaman luas di tengah halaman tersebut tampak patung dua ekor macan putih yang disebut juga dengan Macan Ali, yang menjadi lambang dari Keraton kasepuhan, juga menjadi simbol dari keraton lainnya di Cirebon. Di belakang patung tersebut tampak bangunan utama berwarna putih. Bangunan tersebut bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman.

Dibelakang bangunan tersebut terdapat beberapa ruangan yang termasuk ruangan utama yang sering dijadikan kegiatan kenegaraan Sultan kasepuhan, seperti Bangsal Pringgodani dan Bangsal Panembahan yang merupakan ruangan utama tempat Sultan menerima tamu kenegaraan ataupun mengadakan rapat-rapat penting bersama para petinggi keraton.

 Dalam bangsal panembahan kita akan kembali disuguhkan pemandangan yang luar biasa dari perpaduan beberapa budaya, seperti Jawa, Arab, China dan Eropa. Seperti lukisan dan lampu gantung yang berasal dari Eropa, maupun ornamen bunga lotus/teratai merah pada dingding Bangsal Panembahan yang mewakili budaya China.

Di dalam komplek Keraton kasepuhan kita juga dapat menemukan dua buah musium keraton, musium di sebelah barat adalah musium yang berisikan benda-benda pusaka keraton, seperti alat musik yang terdiri dari gending dan gamelan, perlengkapan perang mulai dari keris, tombak, baju jirah serta beberapa meriam dari portugis dan somalia. 

Sedangkan musium di sebelah timur adalah musium Singa Barong, yang berisi kereta pusaka keraton Kasepuhan yang merupakan perwujudan beberapa mahluk yang bertubuh singa, berkepala naga, berbelalai gajah serta bersayap garuda. Kereta pusaka ini tersimpan rapih dalam musium tersebut dan hanya dikeluarkan pada bulan syawal untuk di jamas atau dibersihkan.

Untuk memasuki Keraton Kasepuhan, kita hanya perlu merogoh kantong sebesar Rp 5.000,- saja itupun sudah termasuk jasa pemandu wisata yang juga merupakan abdi dalem Keraton Kasepuhan. Sedangkan untuk memasuki kompleks Siti Inggil kita tidak dipungut biaya sepeserpun. Dalam kompleks Siti Inggil yang sejuk ini kita masih bisa merasakan suasana Istana Trowulan Majapahit.

Keraton Kasepuhan terletak di Jl Lemah Wungkuk Cirebon, letaknya tidak jauh dari Pasar Kanoman (keraton Kanoman). Banyak akses transportasi dari Stasiun Kejaksan Cirebon dan  Stasiun Prujakan, maupun dari Terminal Harjamukti Cirebon kita dapat menggunakan becak maupun angkot. Untuk ongkos becak dari Stasiun Kejaksan dan Prujakan sekitar Rp 15.000,- dan dari Terminal Harjamukti sekitar Rp 20.000,-. Sedangkan untuk angkot, dari ketiga “gerbang masuk” kota Cirebon tersebut, perlu setidaknya dua kali ganti angkot dengan ongkos Rp 2.500, sekali jalan. (ysg)

Friday, June 3, 2011

Menelusuri Jejak Perlawanan di Keraton Kacirebonan


Memasuki gerbang keraton Kacirebonan pada hari jadi keraton termuda di tanah Cirebon tersebut, membuatku berpikir untuk membandingkannya dengan keraton lainnya di wilayah Cirebon. Seperti Kasepuhan dan Kanoman, pada keraton Kacirebonan tidak kita ketemui gapura gaya bentar khas Majapahit sebagaimana yang dapat kita ketemui di dua keraton lainnya maupun yang tersebar di seluruh gedung perkantoran dan sekolah di Cirebon.

Pada Keraton Kacirebonan yang kita ketemui adalah tembok tinggi dengan gerbang tak bergapura, hanyalah pintu besar yang dihiasi atap joglo di atasnya. Kacirebonan yang juga merupakan keraton terkecil di Cirebon ini lebih mirip dengan bangunan padukuhan atau rumah-rumah adipati pada masa kerajaan dulu.


Namun begitu, Kacirebonan juga memiliki sejarah panjang dengan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Berdirinya Keraton Kacirebonan tak lepas dari ulah kolonial Belanda dalam memecah belah kekuatan pribumi saat itu. Berawal dari perjanjian yang dibuat antara Belanda dan Cirebon pada masa pemerintahan Sultan Anom IV Muhammad Khaeruddin, yang isinya secara langsung memperlemah kekuasaan sultan Cirebon dan menyengsarakan rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang tidak populer, seperti sistem tanam paksa (cultuur stelsel) pajak yang sangat tinggi dan sangat mencekik rakyat, serta campur tangan belanda terhadap urusan keraton yang dinilai melecehkan kewibawaan sultan dan keraton.

Adalah Pangeran Raja Kanoman beserta para putra sultan lainnya, seperti Pangeran Raja Kabupaten dan Pangeran Raja Laut.  Mereka secara tegas dan berani menentang campur tangan Belanda terhadap kebijakan keraton, yang memaksa keraton untuk tidak memihak kepada rakyatnya. Hal ini membuat pemerintah kolonial geram dan pada tahun 1762 memaksa para pangeran tersebut keluar dari lingkungan keraton, dengan mencabut gelar dan tahta waris mereka.

Setelah tersisih dari kehidupan keraton, Pangeran Raja Kanoman hidup berbaur bersama rakyat di kawasan Pesantren Buntet yang saat itu dipimpin oleh Mbah Muqoyim salah satu tokoh agama keraton yang juga memilih untuk mengabdi dari luar keraton. Keberadaan sang pangeran di tengah-tengah rakyatnya, selain menimbulkan simpati juga telah membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Karena itu disamping menuntut ilmu agama, sang pangeran pun menyusun kekuatan perlawanan rakyat yang di sokong oleh kekuatan santri.
Pada tahun 1802, serentetan pertempuran pun terjadi setelah itu. Dari pertempuran-pertempuran kecil hingga pertempuran besar, seperti perang Kedongdong yang membuat Belanda kewalahan dan rugi ratusan juta Gulden. Hingga harus meminta bantuan bala tentara Portugis untuk meredam perlawanan rakyat dan para santri.

Akhirnya pasukan Belanda berhasil membumi hanguskan Pesantren Buntet dan menangkap Pangeran Raja kanoman beserta para saudaranya. Untuk meredam perlawanan rakyat Belanda mengadili sang pangeran di Batavia kemudian membuangnya ke Ambon.

Tapi taktik Belanda tersebut tidak menyurutkan perlawanan rakyat. Berbeda dengan perlawanan rakyat di wilayah nusantara lainnya, yang menjadi api dalam sekam saat sang pemimpin perlawanan berhasil ditaklukan oleh siasat licik kolonial Belanda. Perlawan rakyat Cirebon justru semakin membara. Bukan saja protes rakyat hingga ke Batavia yang memusingkan Belanda, tapi pertempuran kecil yang terjadi serentak di hampir seluruh wilayah Cirebon, telah memusingkan Belanda, hingga pasukan mereka kocar kacir dan terpaksa menyingkir dari wilayah Cirebon.

Hingga pada akhirnya, Gubernur Berlanda untuk wilayah Jawa Tengah Bagian Utara, Nikolas Engelhard, memutuskan untuk mengambil jalan damai dan mengadakan perundingan pada tanggal 18 Agustus 1806,yang hasilnya memutuskan untuk mengembalikan Pangeran Raja Kanoman ke tahtanya. Hal ini baru terlaksana setahun berikutnya yaitu pada tahun 1807.

Tulisan Tangan Gubernur Daendels
Melalui Surat Keputusan 13 Maret 1808, Gubernur Jendral Belanda, Daendles melantik Pangeran Raja Kanoman  sebagai sultan yang ke tiga,dengan gelar Sultan Carbon Amirul Mukminin Mukhammad Khaeruddin. Dengan wilayah kekuasaan meliputibatas kali sukalila sampai perbatasan Kadipaten, utara sampai batas kali bengawan wetan, Kulon termasuk kandanghaur dan kabupaten Indramayu. Dengan beberapa pembatasan hak kekuasaan oleh Belanda, seperti ia tidak diperkenankan meneruskan tahta Sultannya kepada turunannya alias hanya pada dirinya sendiri (Sepanjenengan Kiwala ).

Sifat perlawanan Sang Pangeran tidak luntur begitu saja walaupun Belanda telah mengembalikan haknya sebagai sultan. Ia melarang rakyatnya mematuhi aturan tanam paksa belanda, hingga menyebabkan belanda merugi dan membuat Daendels geram. Hingga sang Gubernur Jendralpun mengeluarkan keputusan yang menjadikan sultan sebagai Ambtenaren Van Zijne Majesteit den Koning Van Holland ( pegawai Sri baginda Raja Holland ) dan pemerintah mengeluarkan Reglement 1809 yang mengatur pengelolaan daerah Cirebon.

Namun sang Pangeran tetap saja tidak mau menempatkan dirinya sebagai bawahan Belanda, beliau tetap memberontak terhadap aturan-aturan belanda. Akhirnya Belanda melakukan tindakan tegas dengan memecat Pangeran Raja Kanoman pada tanggal 2 Maret 1810.

Empat tahun kemudian (1814) Sultan Carbon Kacirebonan Amiril Mukminin Wafat dan kepemimpinan Sultan Carbon dilanjutkan oleh Permasuari Ratu Sultan Gusti Resminingpuri atas izin Belanda. Pada tahun 1815, sang Ratu meindahkan keratonnya dari Sunyaragi ke Pulasaren hingga saat ini. (ysg)

*) ditulis dari berbagai sumber

Perang Kedongdong Bukti Heroisme Para Santri


Ilustrasi pertempuran melawan Belanda (Doc: Istimewa)
Sebuah pertempuran besar luput dari catatan sejarah nasional. Pertempuran tersebut terjadi di Kedongdong (1753-1773), tujuh belas tahun sebelum pecahnya perang Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan Perang Jawa.

Kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menetapkan pajak dengan nilai tinggi kepada rakyat, dinilai sebagai kebijakan yang sangat mencekik, karena saat itu rakyat berada pada kondisi yang miskin dan serba kesulitan. Kebijakan ini mendapatkan tentangan yang sangat kuat dari rakyat, khususnya kaum santri. Saat itu mulailah terjadi perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Pergolakan melawan belanda bertambah hebat, Setelah Pangeran Suryanegara, Putra Mahkota Sultan Kanoman IV menolak tunduk terhadap perintah kolonial Belanda. Ia memutuskan untuk keluar dari keraton dan bergabung bersama rakyat untuk melakukan perlawanan.

Di bawah pimpinan sang pangeran, semangat rakyat semakin membara sehingga pemberontakan sengit terjadi di mana-mana. Pasukan Belanda pun semakin terdesak, mereka mengalami kekalahan perang yang sangat besar, bukan saja kehilangan ribuan nyawa prajuritnya, tapi juga kerugian sebesar 150.000 Gulden untuk mendanai perang tersebut.

Dalam keadaan putus asa Menghadapi perlawanan rakyat di bawah pimpinan Pangeran Suryanegara, Belanda pun meminta tambahan pasukan, bahkan Belanda pun meminta bantuan dari pasukan Portugis yang berada di Malaka, untuk membantu mereka meredam perlawanan rakyat Cirebon.

Kedatangan enam kapal perang yang mengangkut bala bantuan pasukan Belanda, yang di dukung oleh kekuatan tentara portugis di Pelabuhan Muara Jati, tidak membuat ciut perlawanan rakyat. Justru sebaliknya semangat perlawanan mereka semakin menjadi. Pertempuran besar-besaran terjadi di Desa Kedongdong Kecamatan Susukan. Dalam pertempuran tersebut ribuan nyawa melayang, baik di pihak rakyat maupun Belanda.

Setelah menjalani pertempuran selama dua puluh tahun (1753-1773), akhirnya Belanda sadar bahwa mereka tidak bisa menghadapi perlawanan rakyat secara frontal. Merekapun mencari cara untuk melumpuhkan semangat perlawanan rakyat. Salah satu caranya adalah menangkap Pangeran Kanoman, karena dibawah kepemimpinan sang pangeran semangat perlawanan rakyat semakin berkobar.

Akhirnya dengan segala tipu dayanya yang licik, Belanda dapat menangkap Pangeran Kanoman tersebut. Belandapun menahannya di Batavia, kemudian mengasingkannya di Benteng Victoria Ambon. Bukan itu saja, Belanda juga mencabut gelar dan hak kebangsawanan Pangeran Kanoman. Setelah ditangkapnya sang pangeran, perlawanan rakyat semakin melemah. Sedikit demi sedikit pasukan Belanda berhasil menguasai pertempuran.

Walaupun luput dari catatan sejarah nasional, Perang Kedongdong ternyata memiliki arti tersendiri bagi Belanda. Pertempuran yang memakan kerugian besar bagi Belanda, baik harta maupun nyawa itu, telah ditulis dalam sebuah kisah naratif oleh seorang prajurit Belanda bernama Van Der Kamp. Tulisan asli Van Der Kamp saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Belanda.

Perlawanan yang diberikan oleh Pangeran Suryanegara beserta rakyat Cirebon dalam Perang Kedongdong, dapat kita setarakan dengan sengitnya perlawanan yang di berikan oleh Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol maupun Cut Nyak Dien. Karena itu sudah sepantasnya pertempuran tersebut di catat dalam sejarah sebagai pertempuran yang bersifat nasional bukan hanya sekedar pertempuran masyarakat lokal. (ysg)




Ulang Tahun Keraton Kacirebonan: Merayakan Kembali Semangat Perjuangan Rakyat


Meriam alteleri berukuran besar mengawal gerbang keraton Kacirebonan, dengan beberapa orang tentara bersiaga di dekat meriam tersebut. Sebuah pemandangan yang tidak biasa di halaman Keraton Kacirebonan yang biasanya sepi lengang.

Bukan hanya itu saja, sebuah panggung kecil berdiri tak jauh dari meriam tersebut. Beberapa penari cilik dengan lincah  bergantian membawakan tari topeng kelana di atas panggung tersebut. Pemandangan yang tidak biasa ini ternyata adalah bagian dari perayaan ulang tahun Kacirebonan yang ke 203 tahun.

Keraton termuda di Wilayah Cirebon yang resmi berdiri pada tahun 1808 tersebut, pada tanggal 20 Mei hingga 23 Mei 2011 yang lalu menyelenggarakan pesta ulang tahun, yang bernafaskan semangat perjuangan Keraton Kacirebonan bersama rakyat, sebagaimana sejarah awal berdirinya Keraton Kacirebonan.

Dalam perayaan yang digelar selama tiga hari tersebut, keraton kacirebonan menampilkan beberapa stand pameran yang beragam. Selain menampilkan panggung kesenian dari kelompok kesenian Sekar Pandan Asuhan Elang Heri. Juga menampilkan pameran persenjataan dari unsur militer seperti Angkatan laut dan Angkatan Darat. Bukan itu saja, Komunitas Tionghoa Cirebon juga turut mengambil peran daram perayaan tersebut. Mereka menampilkan pameran foto Cirebon tempo dulu yang mengangkat beberapa bangunan bersejarah komunitas tionghoa di Cirebon.

Di bagian bangsal Keraton Kacirebonan, digelar literatur-literatur kuno yang dimiliki oleh Keraton Kacirebonan. Ada yang bertuliskan huruf Jawa kuno dan ada pula bertuliskan huruf Arab. Literatur tersebut sudah cukup tua, beberapa diantaranya sudah berusia ratusan tahun. Menurut Rokhman, petugas dari Konservasi Budaya Cirebon, literatur-literatur yang dipamerkan tersebut, hanyalah sebagaian kecil literatur yang di miliki oleh Cirebon. Literatur-literatur lainnya tersebar di keraton-keraton Cirebon lainnya, bahkan ada yang dimiliki secara pribadi oleh perorangan. Namun dari sekian banyak literatur yang ada, masih sangat sedikit yang sudah dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi acuan sejarah budaya Cirebon.

Akta Pendirian Kacirebonan  
Selain literatur juga, turut dipamerkan akta pendirian Keraton Kacirebonan yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh Gubernur Hindia Belanda, Daendels. Akta tersebut disimpan dengan perlindungan seadanya, yaitu hanya menggunakan laminating dari plastik mika. Namun begitu, tulisannya yang menggunakan tulisan tangan berbahasa Belanda masih cukup jelas terbaca, dengan stempel merah miliki Gubernur Hindia Belanda saat itu.

Dalam perayaan tersebut juga di pamerkan berbagai macam keris yang ada di pulau Jawa. Beberapa diantaranya adalah keris kuno yang telah berusia ratusan tahun dan selebihnya adalah keris-keris buatan masa kini. Namun menurut Mpunya, walaupun di buat di jaman modern, keris-keris tersebut tetap dibuat dengan laku ritual selayaknya keris-keris kuno, untuk mempertahankan budaya dalam pembuatan keris.

Tak jauh dari pameran keris di gelar, dua orang seniman batik dengan piawai menunjukkan keahliannya dalam membuat batik tulis. Tangan-tangan mereka cukup trampil dalam menorehkan canting di atas kain putih, hingga membentuk sebuah motif batik yang cukup indah. Kepiawaian mereka cukup menarik perhatian pengunjung, mereka berkerumun, berlomba untuk melihat lebih dekat tangan-tangan para pembatik itu beraksi. Bahkan pengunjung anak-anakpun dibuat terpesona dengan kemahiran para pembatik tersebut memainkan cantingnya. Gerak tangan mereka seolah-olah seperti sedang menari di atas kain. Begitu lincah, lembut dan menyisakan keindahan.

Bergeser sedikit dari stand pembatik, kita akan disuguhi pemandangan sepeda-sepeda onthel tua yang sangat klasik dan menarik. Selain memajang sepeda tua nan antik, stand yang dikelola oleh komunitas sepeda onthel “Cepot” juga memamerkan aksesoris sepeda onthel yang tidak kalah unik dan menarik.

Walaupun hanya sedikit dan sederhana ragam yang dipamerkan, perayaan ulang tahun Keraton Kacirebonan cukup mengingatkan kita akan manunggalnya Keraton Kacirebon dengan perjuangan rakyat melawan penjajah belanda, diawal berdirinya keraton termuda di Cirebon tersebut. Walaupun lebih di dominasi dengan pameran peralatan tempur, tidak ada kesan penjagaan ketat oleh para aparat yang bertugas di sana. Para pengunjung dapat bebas melihat persenjataan tersebut dari dekat. Bahakan tidak jarang ada pengunjung yang berpose dengan latar belakang peralatan tempur, seperti meriam anti pesawat udara milik AL.

Semoga dengan diadakan perayaan ulang tahun seperti ini. Akan semakin membantu peran keraton, khususnya Keraton Kacirebon untuk semakin memperkaya seni dan budaya yang hidup di tanah Cirebon. Sehingga masyarakat Cirebon tidak terputus akar budayanya, akibat terkikis dengan budaya-budaya asing yang semakin pesat mengambil hati kaum muda. (ysg)

Minimnya Referensi Sejarah Cirebon


Pernah mendengar kalimat The Gate of Secret? Yang jelas ini bukanlah judul film ataupun novel misteri. Bagi orang Cirebon, kalimat yang berarti Gerbang Kerahasiaan ini harus dibiasakan untuk diucapkaan ataupun didengar. Karena kalimat ini adalah branding yang akan disandang oleh Kota Cirebon untuk menjual potensi wisatanya. Branding/slogan ini diambil, karena Kota Cirebon dianggap menyimpan rahasia besar akan masa lalunya yang menarik untuk dijual ke para wisatawan, baik asing maupun domestik. Bisa dikatakan slogan tersebut akan mengantarkan kita untuk menapaki jejak sejarah di Kota Cirebon.

Ironisnya, banyak masyarakat Cirebon sendiri yang tidak mengetahui sejarah Cirebon. Bahkan saat ini sangat sulit sekali bagi kita untuk mencari referensi tentang sejarah Cirebon. Di Cirebon sendiri hanya sedikit sekali terdapat buku-buku mengenai sejarah Cirebon. Menurut pengamatan CIREBON insight, setidaknya ada dua buku yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk mengetahui sejarah Cirebon. Pertama adalah buku berjudul Babad Tanah Sunda Babad Cirebon yang ditulis oleh P.S. Sulendraningrat dan sudah mengalami berkali-kali naik cetak dengan cover yang berbeda-beda. Buku inilah yang sering dijadikan referensi sejarah Cirebon.

Sayangnya, buku yang tidak mencantumkan nama penerbit ini, belum menggunakan ejaan yang sempurna, sehingga kita akan mudah lelah dalam membacanya. Buku lain yang dapat kita temukan adalah buku-buku yang berkisah tetang sejarah Sunan Gunung Jati, seperti buku yang berjudul Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati Dan Sekilas Riwayatnya yang di tulis oleh Hasan Basyari yang diterbitkan oleh Zul Fana Cirebon. Kesamaan dari kedua buku ini tidak dikemas secara eksklusif, tapi tampilannya lebih mirip dengan buku-buku stensilan.
Namun jangan harap dapat menemukan buku-buku tersebut di toko-toko buku. Buku-buku tersebut dapat kita jumpai di pedagang-pedagang buku kaki lima atau di lapak-lapak buku bekas. Itupun sangat sulit untuk mendaapatkannya. Hanya berapa tempat saja di Cirebon yang masih menjual buku-buku tersebut, seperti di depan Masjid Agung Kasepuhan dan di Situs Pemakaman Gunung Jati.

Sebenarnya masih banyak sejarah Cirebon yang belum tergali. Seperti yang dituturkan oleh Rokhman, petugas konservasi budaya Cirebon, saat ditemui di Stand Budaya HUT Kacirebonan beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, sebenarnya referensi sejarah Cirebon itu kaya, hal ini dapat dilihat dari banyaknya literatur/transkrip kuno yang belum tergali. Saat ini transkrip-transkrip tersebut tersebar di banyak “tangan”, ada yang dikoleksi oleh keraton, seperti Keraton Kacirebonan salah satunya ada pula yang tersebar di tangan perorangan.

Dari sekian banyak transkrip tersebut. Hanya sedikit transkrip yang telah dapat diterjemahkan, seperti transkrip Babad Cirebon. Ini dikarenakan semakin sedikitnya sumber daya manusia yang dapat menterjemahkan transkrip tersebut, karena ditulis dengan menggunakan huruf Jawa Kuno dan huruf Arab. Hal ini dipersulit dengan kpondisi transkrip yang mulai lapuk dimakan usia, yang membuat beberapa tulisan pudar bahkan tidak terbaca sama sekali.  Menurut Rokhman saat ini, pihak konservasi budaya sedang berupaya mendata semua transkrip yang ada dan berupaya untuk menterjemahkannya. “Apa yang kami lakukan seperti “menyusun puzzle”, menyatukan keping demi keping agar sejarah Cirebon tidak menjadi sejarah yang hilang.” Pungkasnya di sela-sela kesibukannya pada perayaan HUT Kacirebonan kemarin.

Dengan tekad kuat Pemerintah Kota Cirebon mengusung The Gate of Secret sebagai slogan wisata kota Cirebon, rasanya perlu bagi pemerintah untuk mensosialisasikan kembali sejarah Cirebon kepada warganya, agar warga Cirebon dapat maksimal mendukung slogan tersebut dan terutama lagi agar sejarah Cirebon tidak benar-benar menjadi rahasia yang sulit diungkap. (ysg)

Thursday, June 2, 2011

Hangatnya Wedang Jahe Silahturahmi



Sholat Maghrib berjamaah lah di Masjid Raya At Taqwa Cirebon. Selain mendapatkan suasana interior yang sejuk, kita juga akan dihangatkan oleh secangkir wedang jahe. Setiap usai sholat Maghrib berjamaah, pengurus masjid akan menyediakan puluhan gelas kecil berisikan jahe panas untuk dibagikan ke para jamaah. Gelas-gelas tersebut disajikan pada dua meja yang berbeda. Satu untuk jamaah pria, satu lagi untuk jamaah pria. Pada meja tersebut tertulis “WEDANG JAHE SILAHTURACHMI”.

Setelah do’a usai sholat Maghrib selesai, para jama’ah secara tertib menghampiri tempat di mana wedang jahe tersebut disajikan.

Tidak ketinggalan para jemaah anak-anak pun turut menikmati hangatnya wedang jahe tersebut dengan ceria. Para jamaah berbincang satu sama lain sambil menikmati hangatnya wedang jahe. Tampak pengurus masjid dengan sigap menambah pasokan wedang jahenya, jika dilihat gelas yang disajikan telah habis sementara masih ada jamaah yang datang untuk menikmati wedang tersebut.

“Ini untuk menghangatkan suasana dan menjalin silahturahmi antar jamaah, disamping bentuk sodaqoh (amal) dari masjid ataupun para donatur.” Jelas salah seorang pengurus masjid yang enggan disebutkan namanya. Tapi pada umumnya jemaah menyambut positif “acara” minum wedang jahe usai sholat Maghrib tersebut. “Cukup menghangatkan suasana dan memancing kami untuk saling berbincang, benar-benar wedang jahe penjalin silahturahmi.” Tutur Margono, jamaah asal Pasuran yang sedang mengikuti tur wisata ziarah ke kota Cirebon. “Pokoknya maknyuss deh, apalagi kalo ada camilannya.” Celetuk Iwan Rachmat, bocah kelas 6 SD asal Kejaksan yang turut berjamaah di masjid saat itu. (ysg)

Friday, April 22, 2011

Macan Ali Simbol Perjuangan Orang Cirebon


“Apa arti macan putih bagi orang Cirebon? Sepertinya saya melihat begitu banyak patung serupa di sini.” Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh seorang teman asal kota gudeg Yogyakarta. Sebagai orang Cirebon sekaligus tuan rumah dari teman saya tersebut, saya menjawab: “Oh itu Macan Ali, Lambangnya Keraton Cirebon.”

Hanya itulah  jawaban yang bisa saya berikan saat itu. Teman saya hanya mengangguk pelan dan pembicaraan kami pun berganti ke tema lain. Tapi bagi saya pertanyaan tersebut tetap harus dijawab. Pencarian  jawaban saya mulai dari Keraton Kasepuhan, sebagai keraton tertua di Cirebon. Di sana saya temukan sebuah lukisan kaligrafi Arab berbentuk seekor macan. “Ini adalah Singha Barwang atau biasa disebut Macan Ali, lukisan kaligrafi berbentuk macan yang menjadi lambang kebesaran Kerajaan atau Kasultanan Cirebon.” Jelas Pak Satu, seorang abdi dalem di Keraton Kasepuhan yang menemaniku berkeliling di kompleks keraton. Menurut Pak Satu, Kaligrafi bertuliskan kalimat syahadat itu merujuk kepada kepahlawanan Sayidina Ali dalam memperjuangkan agama Islam.

Dalam literatur lain juga dikemukakan bahwa sebelum Cirebon, ada beberapa negara lain yang juga menggunakan Macan Ali sebagai lambang kebesaran negaranya. Seperti kerajaan Indraprahasta, Wanagiri dan Singhapura. Dijadikannya Macan Ali sebagai lambang kebesaran Kesultanan Cirebon juga untuk membuktikan tekad dan eksistensi Cirebon dalam menyiarkan Agama Islam di Bumi Nusantara.


Bendera Macan Ali juga pernah berkibar, mengiringi keperkasaan Pasukan Kesultanan Cirebon dalam beberapa perang besar melawan penjajahan. Seperti perang melawan Tentara Portugis (1512-1526) yang diprakarsai oleh Kesultanan Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Dalam perang tersebut bala tentara Cirebon turut bertempur bersama bala tentara Demak dalam melawan Portugis. Bendera Macan Ali juga pernah berkibar dalam perang Kedongdong (1793-1808), yaitu perang yang dipicu oleh pemberontakkan para santri Melawan tentara Belanda yang diperkuat oleh bala tentara Portugis.

Menurut kisah, kebesaran dan keberanian pasukan Cirebon saat itu, dipengaruhi juga oleh kharisma Bendera Macan Ali yang juga dijadikan sebagai panji perang Kasultanan Cirebon. Karena dalam Bendera Macan Ali Banyak terkandung nilai-nilai filosofis, seperti:
1.      Tulisan Basmallah dan Asmaul Husna yang melambangkan kebesaran Allah.
2.      Dua bintang bersisi delapan yang melambangkan Nabi Muhammad dan Fatimah.
3.      Singa Kecil dan besar serta dua buah pedang yang menyilang,  melambangkan Pedang        Zulfikar milik  Imam Ali.
4.      Asadullah, yaitu Singa besar atau singa Allah yang disebut  sebagai Macan Ali
5.      Lima orang manusia suci yang melambangkan tiang agama sebagai sumber hidayah.

Saat ini, walaupun kasultanan/keraton-keraton di Cirebon sudah tidak lagi berada dalam masa keemasannya, Macan Ali masih menjadi lambang kebesaran yang sangat dihargai oleh masyarakatnya. Keberadaan Macan Ali sebagai simbol pun belakangan ini semakin dikenal orang, dengan semakin maraknya kaligrafi Macan Ali bermunculan di beberapa media, seperti sticker, kalender maupun kaos. Semoga dengan bangkitnya kembali Macan Ali sebagai simbol masyarakat Cirebon, dapat menghantarkan kembali Cirebon ke masa kejayaannya seperti dulu.(ysg)

Saturday, April 16, 2011

Cirebon, Kota Seribu Gapura


Memasuki Istana Pakung Wati – Keraton Kasepuhan Cirebon, kita akan melihat sepasang gapura berwarna merah bata yang berdiri kokoh di pelataran depan keraton tersebut.

Gapura tersebut terbuat dari teracota atau sejenis batu bata kuno yang banyak digunakan sebagai bahan bangunan keraton saat itu. Gapura Keraton Kasepuhan adalah gapura bergaya bentar yang sangat khas pada zaman Majapahit. Gaya Majapahit sangat kental pada Keraton Kasepuhan, karena keraton tersebut paska perang Demak-Majapahit (1529) di rombak semirip mungkin dengan istana Majapahit, yaitu istana Trowulan. Arsitek dan kuli-kuli bangunannya pun sebagian besar berasal dari Majapahit, yang dibawa dari Demak sebagai tawanan perang, sebagai balas jasa karena Cirebon turut membantu Demak memenangkan pertempuran tersebut. 

Karena keunikan gapura tersebutlah, pemerintah Cirebon menjadikannya sebagai ciri khas (landmark) Cirebon. Pada tahun 1997 diwajibkan bagi setiap kantor instansi pemerintah dan swasta-swasta tertentu untuk membangun gapura sebagai pintu gerbangnya. Kebijakan ini mendapat dukungan yang luas dari masyarakat, sehingga bukan hanya perkantoran saja yang membangun gapura, tetapi pemukiman-pemukiman penduduk juga turut dihiasi megahnya gapura bergaya bentar ini. Keberadaan gapura-gapura bergaya  bentar yang memenuhi pemandangan di Cirebon, mengantarkan kita pada suasana klasik yang menggambarkan kejayaan Keraton Kasepuhan pada masa lalu. (ysg)


Friday, April 15, 2011

Kumandange Adzan Pitu



Sholat Jum’at lah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan, selain suasananya yang terasa beda, karena masjid ini adalah masjid kuno yang dibangun pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati pada tahun 1480 M (abad 15). Anda juga akan berkesempatan mendengarkan adzan pitu, yaitu adzan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin secara bersamaan. Walaupun lafal/bacaan yang dikumandangkannya sama, namun dengan dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus, kita akan merasakan getaran yang berbeda saat mendengarkannya. Suasana yang sangat tenang terasa selama adzan tersebut dikumandangkan.

Konon adzan pitu pertama kali dikumandangkan sebagai penolak bala. Ada dua versi kisah sejarah tentang asal muasal adzan pitu. Versi pertama adalah Masjid Sang Cipta Rasa mengalami kebakaran hebat, beberapa upaya telah dilakukan untuk memadamkan api yang membakar masjid tersebut, namun selalu gagal. Atas usul dari istri Sunan Gunung Jati, di kumandangkanlah adzan sebagaimana panggilan untuk sholat. Adzan pertama dikumandangkan oleh satu orang namun api belum juga kunjung padam. Kemudian ditambahkan lagi seorang muadzin untuk turut mengumandangkan adzan, tapi api belum juga berhasil dipadamkan. Kemudian ditambahkan lagi beberapa orang muadzin hingga berjumlah tujuh orang, barulah api tersebut padam.

Versi kedua adalah Masjid Sang Cipta Rasa dikuasai oleh kekuatan jahat yang bersemayam di kubah masjid, kekuatan itu berasal dari jin yang bernama Menjangan Wulung.   Jin tersebut membuat resah warga, karena membunuh siapapun yang datang ke masjid untuk sholat. Tidak mudah untuk mengalahkan Menjangan Wulung, karena ia adalah sesosok jin yang sangat sakti. Berdasarkan ikhtiar, Sunan Gunung Jati mencoba melawannya dengan kumandang adzan. Beliaupun menugaskan seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan, namun jin tersebut berhasil membunuh sang muadzin. 

Upaya pun terus dilakukan hingga Sunan memerintahkan tujuh orang muadzin sekaligus untuk mengumandangkan adzan. Hingga terdengarlah dentuman keras yang menghempaskan kubah masjid ke angkasa sekaligus membunuh menjangan wulung. Kisah ini juga diyakini menjadi penyebab kenapa Masjid Sang Cipta rasa tidak memiliki kubah dan sebagian masyarakat meyakini kubah masjid tersebut jatuh di wilayah Banten.

Sejak saat itu adzan pitu selalu dikumandangkan setiap waktu sholat tiba. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini adzan pitu hanya dikumandangkan pada saat waktu sholat jum’at tiba. (ysg)