Showing posts with label masjid. Show all posts
Showing posts with label masjid. Show all posts

Saturday, August 4, 2012

Tabuh Bedug Masjid Sang Cipta Rasa


Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan (Cirebon Insight)
Ada tradisi unik dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang digelar selama bulan Ramadhan. Masjid Tua peninggalan Sunan Gunung Jati yang terletak di Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon ini, selama bulan Ramadhan menggelar Tradisi Dugdag, yaitu tradisi tabuh bedug yang digelar setiap malam sekitar pukul 23.00 usai tadarusan (membaca Al Qur’an) hingga menjelang waktu imsyak yaitu pukul 04.30.
Menabuh dugdag menjelang imsyak (Doc. SCTV)
Menurut H. Sobari, sesepuh Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Tradisi yang sudah berlangsung sejak abad 14 ini pada awalnya bertujuan untuk mengabarkan waktu sholat 5 waktu dan datangnya bulan Ramadhan, namun saat ini tabuh dugdag hanya digelar selama bulan Ramadhan saja. Dengan tujuan mengingatkan/membangunkan warga untuk sholat malam di masjid dan untuk sahur.
Menabuh bedug dalam tabuh dugdag tidaklah sembarangan, dalam dugdag ada tiga irama tabuh bedug yang harus dibunyikan, karena itu untuk menghindari kesalahan para penabuh dugdag yang rata-rata menabuh selama 20 menit, diberikan kesempatan sebelumnya untuk berlatih, agar tidak terjadi kesalahan irama saat menabuh. Sebelum menabuh bedug, para penabuh bedug juga diwajibkan untuk bersuci/berwudlu layaknya hendak mendirikan sholat.
Seperti halnya kebanyakan tradisi, tabuh dugdag juga tidak lagi populer dikalangan generasi muda. Rata-rata penabuh dugdag saat ini sudah berusia lanjut. Sebut saja Muhamad Rifai yang sudah menabuh dugdag selama 50 tahun, menurutnya generasi muda saat ini sudah tidak lagi tertarik dengan tradisi dugdag, mereka lebih menarik dengan tradisi modern, walaupun tradis tersebut kurang bermanfaat. (ysg)

Friday, June 3, 2011

Cirebon Cantik dari Ketinggian



Ingin menikmati suasana yang berbeda di kota Cirebon? Berkunjunglah ke Masjid Raya At Taqwa di sore hari. Di sana terdapat menara yang menjulang tinggi dengan ketinggian 60 meter. Setiap harinya menara tersebut di buka untuk umum dari pukul 15.00 hingga 17.30 WIB dan khusus hari sabtu, minggu maupun hari libur menara tersebut dibuka mulai pukul 06.00 WIB.

Dengan membayar tiket seharga tiga ribu rupiah kita dapat menikmati indahnya kota cirebon dari atas menara yang memiliki 15 lantai tersebut. Ada tiga lantai yang memiliki balkon, dimana kita bisa leluasa menikmati pemandangan dari luar, yaitu lantai 5, lantai 9 dan terakhir lantai 13. Dari lantai 9 kita sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa. Di arah timur kita bisa melihat laut membentang sedangkan di bagian barat kita bisa melihat Gunung Ciremai menjulang. Jika langit sedang cerah kita dapat melihat pemandangan-pemandangan tersebut lebih indah lagi.

Untuk menaiki menara masjid di butuhkan sedikit perjuangan ekstra. Dari lantai dasar hingga lantai 5 kita akan menapaki anak tangga yang besar dan mudah untuk dipijak, sepanjang perjalanan kita akan disuguhi foto foto masjid agung yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Sementara antara lantai 5 hingga lantai 9 ruangan semakin bertambah sempit, anak tangga yang kita titi pun berukuran lebih kecil dan kita perlu hati-hati untuk menapakinya, terutama saat turun. Selanjutnya antara lantai 9 dan 15 kita akan menjumpai ruangan yang lebih sempit lagi, hingga kita perlu lebih hati-hati lagi.

Namun, semua perjuangan tersebut tidak akan sia-sia, begitu kita sampai di atas dan menikmati pemandangan dari ketinggian. Semua jerih payah kita akan terbayar semua.

 Di atas, selain kita dapat merasakan angin sore yang sejuk, kita juga dapat menikmati pemandangan Cirebon yang berbeda dari segala penjuru, hanya tinggal mengitari menara masjid saja. Suasana di atas sana sangat cocok bagi para pencari ketenangan. Soal keamanan, jangan khawatir,balkon menara dilindungi oleh pagar yang tinggi, karena itu aman bagi orang dewasa ataupun anak-anak. Bagi yang tidak kuat meniti tangga sampai ke puncak menara, lantai 9 pun sudah cukup menyajikan pemandangan Cirebon dari ketinggian yang indah.(ysg)

Thursday, June 2, 2011

Hangatnya Wedang Jahe Silahturahmi



Sholat Maghrib berjamaah lah di Masjid Raya At Taqwa Cirebon. Selain mendapatkan suasana interior yang sejuk, kita juga akan dihangatkan oleh secangkir wedang jahe. Setiap usai sholat Maghrib berjamaah, pengurus masjid akan menyediakan puluhan gelas kecil berisikan jahe panas untuk dibagikan ke para jamaah. Gelas-gelas tersebut disajikan pada dua meja yang berbeda. Satu untuk jamaah pria, satu lagi untuk jamaah pria. Pada meja tersebut tertulis “WEDANG JAHE SILAHTURACHMI”.

Setelah do’a usai sholat Maghrib selesai, para jama’ah secara tertib menghampiri tempat di mana wedang jahe tersebut disajikan.

Tidak ketinggalan para jemaah anak-anak pun turut menikmati hangatnya wedang jahe tersebut dengan ceria. Para jamaah berbincang satu sama lain sambil menikmati hangatnya wedang jahe. Tampak pengurus masjid dengan sigap menambah pasokan wedang jahenya, jika dilihat gelas yang disajikan telah habis sementara masih ada jamaah yang datang untuk menikmati wedang tersebut.

“Ini untuk menghangatkan suasana dan menjalin silahturahmi antar jamaah, disamping bentuk sodaqoh (amal) dari masjid ataupun para donatur.” Jelas salah seorang pengurus masjid yang enggan disebutkan namanya. Tapi pada umumnya jemaah menyambut positif “acara” minum wedang jahe usai sholat Maghrib tersebut. “Cukup menghangatkan suasana dan memancing kami untuk saling berbincang, benar-benar wedang jahe penjalin silahturahmi.” Tutur Margono, jamaah asal Pasuran yang sedang mengikuti tur wisata ziarah ke kota Cirebon. “Pokoknya maknyuss deh, apalagi kalo ada camilannya.” Celetuk Iwan Rachmat, bocah kelas 6 SD asal Kejaksan yang turut berjamaah di masjid saat itu. (ysg)

Friday, April 15, 2011

Kumandange Adzan Pitu



Sholat Jum’at lah di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan, selain suasananya yang terasa beda, karena masjid ini adalah masjid kuno yang dibangun pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati pada tahun 1480 M (abad 15). Anda juga akan berkesempatan mendengarkan adzan pitu, yaitu adzan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin secara bersamaan. Walaupun lafal/bacaan yang dikumandangkannya sama, namun dengan dikumandangkan oleh tujuh orang sekaligus, kita akan merasakan getaran yang berbeda saat mendengarkannya. Suasana yang sangat tenang terasa selama adzan tersebut dikumandangkan.

Konon adzan pitu pertama kali dikumandangkan sebagai penolak bala. Ada dua versi kisah sejarah tentang asal muasal adzan pitu. Versi pertama adalah Masjid Sang Cipta Rasa mengalami kebakaran hebat, beberapa upaya telah dilakukan untuk memadamkan api yang membakar masjid tersebut, namun selalu gagal. Atas usul dari istri Sunan Gunung Jati, di kumandangkanlah adzan sebagaimana panggilan untuk sholat. Adzan pertama dikumandangkan oleh satu orang namun api belum juga kunjung padam. Kemudian ditambahkan lagi seorang muadzin untuk turut mengumandangkan adzan, tapi api belum juga berhasil dipadamkan. Kemudian ditambahkan lagi beberapa orang muadzin hingga berjumlah tujuh orang, barulah api tersebut padam.

Versi kedua adalah Masjid Sang Cipta Rasa dikuasai oleh kekuatan jahat yang bersemayam di kubah masjid, kekuatan itu berasal dari jin yang bernama Menjangan Wulung.   Jin tersebut membuat resah warga, karena membunuh siapapun yang datang ke masjid untuk sholat. Tidak mudah untuk mengalahkan Menjangan Wulung, karena ia adalah sesosok jin yang sangat sakti. Berdasarkan ikhtiar, Sunan Gunung Jati mencoba melawannya dengan kumandang adzan. Beliaupun menugaskan seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan, namun jin tersebut berhasil membunuh sang muadzin. 

Upaya pun terus dilakukan hingga Sunan memerintahkan tujuh orang muadzin sekaligus untuk mengumandangkan adzan. Hingga terdengarlah dentuman keras yang menghempaskan kubah masjid ke angkasa sekaligus membunuh menjangan wulung. Kisah ini juga diyakini menjadi penyebab kenapa Masjid Sang Cipta rasa tidak memiliki kubah dan sebagian masyarakat meyakini kubah masjid tersebut jatuh di wilayah Banten.

Sejak saat itu adzan pitu selalu dikumandangkan setiap waktu sholat tiba. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini adzan pitu hanya dikumandangkan pada saat waktu sholat jum’at tiba. (ysg)

Tuesday, April 12, 2011

Menikmati Jejak Sejarah di Panjunan


 
 Mendung memayungi sore di Kota Cirebon, membuat suasana Kota Cirebon menjadi sedikit berbeda. Udara panas yang biasanya masih menyengat untuk sementara tergantikan dengan udara dingin yang sejuk. Suasana yang berbeda juga kami rasakan saat memasuki Kelurahan Panjunan, sebuah perkampungan kuno yang terletak di pusat Kota Cirebon. Dikatakan sebagai perkampungan kuno, karena Kelurahan Panjunan memiliki sejarah yang panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan sejarah Islam di Pulau jawa khususnya di Cirebon.

Sejarah Panjunan bermula saat seorang Pangeran Arab dari Baghdad yang bernama Maulana Abdul Rahman datang ke Cirebon untuk berguru Agama Islam kepada Sunan Gunung Djati. Sang pangeran beserta keluarga dan rombongannya dari Baghdad memutuskan untuk menetap di suatu tempat yang letaknya tidak jauh dari Pusat Kerajaan Cirebon. Selain belajar dan mengembangkan agama Islam, sang pangeran dan para pengikutnya juga bekerja sebagai pengrajin gerabah atau keramik sebagai mata pencaharian mereka, karena itulah sang pangeran mendapat julukan Pangeran Panjunan dan daerah yang mereka tempati kemudian dikenal dengan nama Panjunan. Kata Panjunan diambil dari kata Jun yang berarti keramik. Walaupun di sini sudah tidak ada lagi pengrajin gerabah, namun sampai saat ini  terdapat beberapa warga yang masih eksis mencari nafkah sebagai pedagang gerabah.

Kelurahan Panjunan juga dikenal sebagai Kampung Arab, karena di daerah ini banyak terdapat warga keturunan Arab yang sudah tinggal secara turun temurun sejak Pangeran Panjunan dan para pengikutnya menempati daerah ini.

Di Panjunan juga masih dapat kita jumpai jejak-jejak sejarah kota Cirebon, seperti Masjid Merah, yaitu sebuah Masjid tua yang didirikan pada tahun 1453, jauh lebih tua dari Masjid Agung Keraton Kasepuhan Sang Cipta Rasa yang didirikan pada tahun 1549. Masjid Merah didirikan pada masa-masa awal perkembangan Agama Islam di Cirebon. Dikatakan Masjid Merah, karena hampir seluruh dinding masjid dan tembok pagarnya di dominasi warna merah mencolok. Arsitektur masjid ini masih kental dengan nuansa arsitektur Hindu-Budha Majapahit. Jejak-jejak hubungan antara Cirebon dengan kekaisaran China pada masa itupun, masih jelas terlihat pada beberapa keramik yang tertanam baik di bagian tembok pagar masjid maupun di bagian dalam masjid. Masjid yang ukurannya tidak terlalu luas ini juga memiliki gapura khas Cirebon pada pintu gerbangnya, sehingga menambah masjid ini semakin menarik.

Tidak hanya potensi wisata sejarah saja yang terdapat di daerah ini. Panjunan juga menyimpan potensi lain, yaitu wisata kuliner, tidak jauh dari Masjid Merah terdapat penjual mi koclok, yang telah berjualan sejak puluhan tahun yang lalu. kuliner khas Cirebon yang terbuat dari mi kuning, dengan kuah putih kental dan gurih yang terbuat dari beras dan santan, di tambah dengan sisiran daging ayam dan irisan telur rebus. Membuat makanan ini terasa begitu lezat, apa lagi sambalnya yang dapat menambah selera makan kita bertambah lahap. Pada sore hari, di seberang pedagang mi koclok juga biasanya dapat kita temui pedagang jajanan pasar, seperti arem-arem, naga sari, koci dan jajanan pasar lainnya yang cocok kita bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk di rumah.

Saat berada di Cirebon berkunjung ke Panjunan adalah sebuah pilihan yang tepat, karena di sini kita bisa mendapatkan perpaduan wisata yang cukup menarik. Selain karena aksesnya yang cukup mudah, kita juga dapat menikmati lezatnya mi koclok sambil menikmati suasana sore di perkampungan Arab dengan berlatar belakang masjid kuno nan eksotik. (ysg)

Wednesday, April 6, 2011

Mencari Keselamatan Di Masjid Tua


Ditengah hiruk pikuk pusat perbisnisan di Jalan Karang Getas Cirebon, menyempil sebuah masjid tua bersejarah tak jauh dari perempatan jalan menuju Pasar Kanoman. Lokasinya terhimpit di antara toko-toko emas yang mendominasi bisnis di jalan tersebut. Bahkan papan namanya pun tertutup oleh kain-kain yang dijadikan sebagai pelindung panas oleh toko emas, maupun penjual emas emperan yang berada di depannya. Masjid ini tidak memiliki pelataran, hanya dibentengi dengan tembok tinggi yang menyatu dengan toko-toko di sampingnya dan hanya menyisakan sebuah pintu kecil sebagai asset masuk dan keluarnya.

Adalah Masjid Jagabayan, sebuah masjid tua bersejarah yang didirikan pada awal-awal pemerintahan Keraton Cirebon pada masa Sunan Gunung Jati. Dinamakan Jagabayan, karena masjid ini dipercaya dapat menjaga umatnya dari marabahaya. Karena itulah banyak peziarah yang datang ke masjid yang berukuran tidak lebih dari 10 m x10 m ini untuk mencari keselamatan atau membuang sial.

Dengan ritual yang dinamakan sedekah minyak, dimana para peziarah datang ke masjid tersebut dengan membawa sekantung plastik berisikan minyak kelapa, kemudian mengutarakan maksudnya kepada penjaga masjid, lalu mereka berdoa bersama, memohon pertolongan dari Allah SWT agar diberi keringanan dan bantuan dalam menghadapi masalah. Setelah proses tersebut selesai, penjaga masjid akan memberikan kepada para peziarah sekantung air yang berasal dari dalam sumur yang terdapat di masjid tersebut untuk di bawa pulang. Biasanya air tersebut digunakan untuk diminum, cuci muka ataupun untuk mandi kembang.

Diantara kesibukan aktifitas bisnis yang ada disekitarnya, Masjid Jagabayan seolah-olah berdiri sendiri, tak tersentuh oleh pengaruh kemajuan kota. Ditengah-tengah kesibukan masyarakat sekitarnya dalam mengejar rupiah, masjid tersebut tetap setia menjalankan fungsi tradisinya dalam menjaga keselamatan umat. (ysg)