Thursday, September 8, 2011

Merayakan Kembali Kemenangan dengan Grebeg Syawal

                                                                                                         Foto : Istimewa
Setelah merayakan kemenangan pada hari raya Idul Fitri, umat Muslim kembali disunahkan untuk berpuasa selama 6 hari di awal Bulan Syawal. Pada hari ke tujuh atau tanggal 7 Syawal, umat muslim khususnya di Cirebon merayakannya sebagai lebaran ke dua.

Ada berbagai macam kegiatan keagamaan dan adat yang dilakukan oleh umat muslim dalam merayakan lebaran ke dua, yang disebut juga dengan Lebaran Syawal atau Syawalan. Ada yang merayakannya sebagai ajang silahturahmi antar warga. Sebagaimana yang digelar oleh jamaah Mushola Al Akbar, Kampung Karang Pura Kelurahan Sukapura Kota Cirebon, yang menggelar acara tahlilan sekaligus silahturahmi  warga di sekitarnya. 

Adapula yang menggelar arak-arakan seperti yang dilakukan oleh warga Desa Trusmi. Warga kampung batik tersebut setiap Lebaran Syawal tiba selalu menggelar arak-arakan dengan berjalan kaki menuju makam Sunan Gunung Jati. Arak-arakan tersebut ditujukan sebagai penghormatan terhadap perjuangan leluhur mereka dalam menyebarkan agama Islam. Selain arak-arakan, sebagai penghormatan terhadap leluhur, mereka juga membangun sebuah cungkup di situs Makam Sunan Gunung Jati, yang disebut sebagai Cungkup Trusmi. Cungkup tersebut digunakan juga sebagai tempat beristirahat untuk masyarakat Trusmi yang berjiarah ke sana.

                                                                                                           Foto : Istimewa
Selain masyarakat Trusmi, pada lebaran Syawal situs Makam Sunan Gunung Jati juga ramai dikunjungi oleh masyarakat, baik dari daerah Cirebon dan sekitarnya maupun dari luar kota bahkan luar propinsi, yang jumlahnya bisa mencapai ribuan pengunjung. 

Pada umumnya masyarakat berlomba-lomba mendekati pintu pasujudan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lawang Gedhe, yaitu sebuah pintu gerbang menuju Makam Sunan Gunung Jati, yang hanya dibuka pada saat-saat tertentu saja dan hanya sultan berserta keluarga dan keraabat dekatnya saja yang boleh masuk. Sudah menjadi tradisi pada setiap syawalan Sultan Keraton Kanoman dan para kerabatnya berjiarah ke makam Sunan Gunung Jati dan makam para sesepuh Keraton Kanoman, dengan memasuki Lawang Gedhe. Sebagaimana pada acara Syawalan yang digelar kemarin (8/9) Sultan Raja Muhammad Emirudin berserta keluarga dan kerabat Keraton Kanoman memasuki kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Dalam acara ritual tersebut, selain berdoa untuk para sesepuh yang sudah meninggal, mereka juga memanjatkan puji syukur atas segala karunia yang telah diberikan oleh Tuhan kepada mereka dan masyarakat Cirebon.

                                                                             Foto : Istimewa
Hal yang sama juga dilakukan oleh para peziarah lainnya, namun selain berziarah juga banyak diantara mereka juga datang untuk mendapatkan berkah dari sang sultan. Karena itu jumlah peziarah yang mendekati Lawang Gedhe akan semakin padat seiring dengan kedatangan Sultan Kanoman. Mereka berdesak-desakan dan saling berebut makanan dan sedakah yang ditebarkan oleh sang sultan usai berziarah. “Sultan itu orang penting dan turunan langsung dari Sunan Gunung Jati, kebaikan yang ditebarkannya pastilah mendatangi berkah” Jelas Asep Wahyudin, peziarah asal Trusmi Kabupaten Cirebon yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang di Jakarta.

Tidak semua orang yang mengunjungi Situs Makam Sunan Gunung Jati pada Lebaran Syawal, bertujuan untuk berziarah. Ada pula yang sengaja datang pagi-pagi untuk memperoleh rezeki di sana. Salah satunya adalah Bang Ucok, warga Klayan Kabupaten Cirebon tersebut sengaja datang lebih awal untuk mendapatkan lapak guna berjualan sandal. “Walaupun lebaran sudah lewat, saya yakin dengan ramainya pengunjung, sandal dagangan saya dapat ludes terjual. Apalagi banyak pengunjung yang datang dari pelosok daerah” ujarnya optimis. Selain bang Ucok juga terdapat  pedagang-pedagang lain yang mengharap cipratan rejeki dari acara Syawalan tersebut. Seperti Deden misalnya, pria asal Majalengka ini sangat optimis dompet dan sabuk kulit dagangannya bakal ludes terjual hari ini. “Kantong para pengunjung masih tebel karena masih bau-bau lebaran, Insya Allah dagangan saya bakal banyak terjual hari ini.” Tuturnya dengan semangat.

Bukan hanya para pedagang saja berebut rejeki. Anak-anak dari daerah sekitar pun banyak yang berprofesi sebagai pengemis cilik dadakan, dengan penuh semangat dan ceria mereka secara bergerombol mendekati pengunjung untuk meminta-minta uang recehan. Bagi anak-anak, kegiatan mereka ini hanyalah sebuah permainan untuk mengisi waktu luang yang menghasilkan. Banyak pengunjung yang menebarkan uang recehan kepada mereka sebagai sedekah, namun tidak sedikit pula yang merasa risih dengan ulah mereka. (ysg)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment