Monday, July 25, 2011

Lirikan Mata Lukisan Prabu Siliwangi

Sebuah lukisan besar bergambarkan seorang raja yang tegap berdiri bersama seekor harimau loreng, terpampang di salah satu sudut museum benda-benda pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon. Warnanya yang di dominasi coklat dan keemasan membuat lukisan besar berukuran 1,5 m x 1 m tampak mencolok diantara benda-benda pusaka di sekitarnya.

“Ini adalah lukisan Prabu Siliwangi, kakek dari P. Cakrabuana pendiri Cirebon.” Jelas Pak Satu, salah satu Abdi Dalem Keraton Kasepuhan yang bertugas sebagai pemandu wisata. Dijelaskan oleh Pak Satu, lukisan ini di lukis oleh seorang pelukis asal Garut sekitar setahun yang lalu, tidak diketahui pasti nama dan identitas lengkap dari pelukis tersebut. Lukisan Prabu Siliwangi ini di buat berdasarkan mimpi sang pelukis, yang mengaku mendapatkan wangsit untuk melukis Sang Prabu dan memberikannya secara gratis kepada Keraton Kasepuhan.

Menurut Pak Satu, ini seperti lukisan tiga dimensi. “Kemana pun kita bergerak mata Sang Prabu dalam lukisan tersebut seperti mengikuti kita.” jelasnya sambil menggeser posisi badannya ke sebelah kanan dan kiri lukisan. Karena keunikan tersebutlah banyak pengunjung yang tertarik melihatnya berlama-lama. Bahkan tidak sedikit para pelukis yang membuat lukisan tiruannya, karena mereka menilai lukisan Prabu Siliwangi tersebut sebagai lukisan antik. Tapi tidak sedikit pula pengunjung yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang biasa. “ada juga yang hanya mengaggap ini sebagai sugesti saja.” tambah Pak Satu.

Keberadaan lukisan tersebut ternyata berdampak positif bagi pengunjung, karena dengan adanya lukisan tersebut, mendorong para pemandu untuk bercerita tentang Prabu Siliwangi dan hubungannya dengan sejarah Cirebon, sehingga memberikan pengetahuan sejarah tambahan bagi para pengunjung Keraton Kasepuhan. (ysg)

Saturday, July 23, 2011

Saat Anak-anak Tak lagi menggemari Lagunya


Anak-anak kecil saat ini lebih fasih menyanyikan lagu-lagu dewasa bertemakan cinta, ketimbang lagu anak-anak yang ceria.

Menghilangnya tayangan lagu anak anak dari layar kaca ternyata berpengaruh juga pada kecenderungan bernyanyi anak-anak saat ini. mereka tak lagi menyanyikan lagu-lagu anak yang ceria dan menggemaskan seperti lagu Berkebun, Balonku, Cicak-cicak di Dinding, Topi Saya Bundar, serta sederet lagu anak-anak lainnya. Mereka lebih memilih dan bangga menyanyikan lagu-lagu dewasa yang sedang ngetop saat ini, walaupun tema lagunya tidak cocok dengan usia dan perkembangan mental mereka.

Menghilangnya tayangan lagu anak-anak dilayar kaca juga ternyata berpengaruh pada terhentinya kreativitas para pencipta lagu anak-anak. Selain para maestro pencipta lagu anak seperti Pak Kasur, Bu Kasur, Bu sud, At Mahmud yang pernah berjaya. Pada era tahun sembilanpuluhan, saat lagu anak-anak kerap ditayangkan dilayar kaca, kita mengenal beberapa pencipta lagu anak yang produktif, seperti Papa T. Bob misalnya. Namun matinya industri musik anak-anak telah berdampak langsung pada matinya kreatifitas para pencipta lagu anak-anak. Sehingga sejak saat itu hampir tidak ada lagu anak-anak ciptaan terbaru.

Tengok saja beberapa festival/lomba nyanyi anak yang kerap ditayangkan TV swasta, hampir seluruhnya lagu-lagu yang ditampilkan adalah lagu dewasa, sementara lagu anak-anak hanya muncul sesekali saja sebagai formalitas belaka.

Fenomena ini sangat disayangkan oleh masyarakat, seperti halnya Ibu Hj. Sudiharti, warga Jl. Pancuran dan nenek dari 3 cucu ini merasa kebutuhan cucunya akan lagu anak tidak dapat terpenuhi lagi melalui layar kaca, karena sudah didominasi oleh lagu-lagu dewasa. Sementara Bu Anche, warga Jl Tuparev, juga menanggapi hal yang serupa, ia mencoba memenuhi kebutuhan anaknya akan lagu anak-anak dengan download melalui internet, itupun yang ia dapat adalah klip-klip lagu era sembilanpuluhan. “lagu anak-anak itu memang perlu untuk perkembangan otak anak, makanya saya bela-belain hunting di internet” tutur ibu satu anak ini.

Keberadaan lagu anak-anak memang sangat dibutuhkan, kareana anak memiliki dunianya sendiri, yaitu dunia anak-anak dan tidak dapat dicampuradukan dengan dunia orang dewasa. Hilangnya lagu anak-anak sekiranya dapat menjadi perhatian bagi pemerintah, agar terlahir kembali pencipta lagu anak-anak semaestro AT. Mahmud, yang dapat menceriakan kembali dunia anak-anak Indonesia. (ysg)

Hilangnya Lahan Bermain Anak


Jangan menyalahkan keberadaan permainan modern atas hilangnya permainan tradisional. Kenapa? Karena permainan tradisional memerlukan lahan untuk bermain, sedangkan permainan modern tidak.

Semakin minimnya lahan di daerah perkotaan yang dapat dijadikan anak-anak untuk bermain, cukup berpengaruh pada semakin jarangnya permainan tradisional dimainkan oleh anak-anak. Pada umumnya permainan tradisional adalah permainan yang asyik dimainkan secara berkelompok, sehingga memerlukan lahan untuk bermain. Dengan hilangnya lahan-lahan tersebut karena semakin padatnya perumahan, membuat anak-anak bermain bukan pada tempatnya, seperti di pinggir rel kereta api, di tepi jalan raya, ataupun areal-areal lain yang jauh dari pemukiman mereka. Yang semuanya sangat beresiko bagi keselamatan anak-anak. Lihat saja anak-anak yang bermain layang-layang di bawah kabel listrik tegangan tinggi, atau mereka yang berlarian mengejar layangan di jalan raya. Lihat juga betapa banyaknya anak-anak yang bermain sepak bola di tepi rel kereta api.

 Kondisi ini tentunya membuat para orang tua menjadi khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka. Karena itulah orang tua lebih memilih anak-anaknya bermain di sekitar rumah atau hanya bermain di dalam rumah saja. Di sinilah permainan-permainan modern dirasa menjadi pilihan yang tepat, karena selain aman, para orang tua juga merasa tidak khawatir dengan keselamatan anak mereka.

Taman bermain! Itulah yang harus menjadi perhatian bagi kita semua, khususnya pemerintah daerah setempat. Keberadaan taman bermain sangat dibutuhkan oleh anak-anak untuk belajar berkomunitas melalui permainan-permainan yang mereka lakukan bersama ataupun melalui olahraga seperti sepak bola.

Bagi pemukiman di daerah perkotaan yang terlanjur padat, mungkin perlu dicari alternatif-alternatif lain yang dapat dijadikan oleh anak-anak sebagai lahan bermain, seperti pelataran masjid yang pada umumnya menyisakan lahan, bisa juga lapangan atau pelataran sekolah yang “dipinjamkan” sebagai lahan bermain diluar jam sekolah. Tapi bagi pemukiman-pemukiman baru yang masih dalam tahap pengembangan, kiranya wajib menyisakan lahan untuk tempat bermain anak-anak. Agar anak-anak dapat bermain dengan nyaman, tanpa dibayang-bayangi resiko yang dapat membahayakan nyawa mereka. Untuk anak-anak Indonesia, Selamat Hari Anak Nasional. (ysg)


Tenggelamnya Permainan Tradisonal


Sekelompok anak-anak berkumpul di tanah lapang, mereka mempermainkan sebuah permainan dengan menggunakan dua batang tongkat pendek, dimana seorang anak secara bergantian menggunakan tongkat yang satu untuk memukul tongkat yang lain, sehingga terlempar jauh. Sementara anak-anak yang lain dengan sigap mengejar batang tongkat yang terlempar tersebut. itulah pemainan toklek, sebuah permainan tradisonal yang dimainkan secara tim. Sebuah permainan yang semakin jarang terlihat, karena lahan bermain yang semakin sempit dan juga pengaruh permainan-permainan modern yang tidak memerlukan lahan luas dan dapat dimainkan sendiri di dalam rumah tanpa perlu berkeringat.

Selain toklek masih terdapat permainan-permainan tradisional lainnya yang semakin jarang dimainkan lagi oleh anak-anak saat ini, seperti gobag sodor, bebentengan, engklek, dam-daman serta masih banyak lagi sederet permainan tradisional yang sudah tenggelam karena tergerus laju perkembangan jaman.

 Sedikit demi sedikit permainan tradisonal tersebut mulai tergantikan dengan permainan-permainan yang lebih modern, seperti gamewatch yang populer pada tahun sembilan puluhan dan semakin berkembang kepermainan-permainan elektronik yang lebih canggih seperti gameboy dan PS. Serta permainan-permainan modern lainnya yang lebih cenderung kepada permainan individual.

Hampir punahnya permainan tradisional banyak disesalkan oleh banyak pihak, karena banyak nilai-nilai positif yang dapat dipetik dari setiap permainan tradisional, selain mempertahankan tradisi dan budaya. Permainan tradisional mengajarkan kita bagaimana caranya hidup berkomunitas. Anak-anak yang lebih tua umurnya menjaga dan membimbing anak-anak yang lebih muda, sedangkan anak-anak yang lebih muda, menghormati dan belajar kepada anak-anak yang lebih tua. 

Dalam permainan tersebut anak-anak juga belajar bagaimana mengembangkan kreatifitas dalam membangun strategi untuk memenangkan permainan. Di sana juga terkandung unsur sportivitas, dimana pihak yang kalah dapat menerima kekalahannya tanpa dendam dan mereka juga diajarkan untuk tidak berbuat curang, karena dalam permainan tradisional, curang adalah hal yang sangat memalukan. Di sinilah spontanitas anak-anak turut dilatih, dengan mengomentari atau menyikapi langsung jalannya permainan yang menyimpang.  

Setiap anak memang milik zamannya masing-masing. Setiap anak disetiap generasi memiliki permainan yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya perkembangan zaman yang telah menggusur permainan tradisonal. Karena hal tersebut tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan.

Banyak upaya-upaya yang saat ini telah dilakukan untuk melestarikan kembali permainan-permainan tradisional, seperti diadakannya festival-festival permainan tradisional ataupun festival dolanan bocah. Festival-festival tersebut bertujuan mengenalkan kembali permainan-permainan tradisional/dolanan bocah kepada anak-anak masa kini, agar permainan-permainan tradisional tidak tenggelam ditelan zaman, karena di dalamnya tersimpan kepribadian bangsa yang luhur. (ysg)

Sarapan pagi dengan lezatnya Docang



Rasanya yang gurih sangat cocok kita jadikan sebagai pilihan untuk sarapan pagi yang hangat.

Docang adalah makanan khas Cirebon yang sering diburu oleh masyarakat Cirebon sebagai menu sarapan pagi. Docang merupakan makanan berkuah yang memiliki citra rasa yang khas, karena terbuat dari kuah yang menggunakan bumbu oncom yang gurih dengan paduan lontong, daun singkong, tauge dan taburan kelapa parut, serta dilengkapi dengan krupuk. Uniknya krupuk yang digunakan bukanlah kerupuk yang gurih tapi kerupuk yang bantat (setengah keras), namun jika kerupuk-kerupuk ini telah menyatu dengan kuah docang, akan menimbulkan rasa gurih yang begitu nikmat. Bagi penyuka rasa pedas, beberapa sendok sambal akan membuat rasa docang semakin segar.

Docang sangat mudah kita temui di pagi hari, baik di pasar maupun di pemukiman penduduk, namun ada juga beberapa pedagang yang mencoba menjajakannya di malam hari, ternyata selain sebagai sarapan docang juga sangat nikmat disantap di malam hari. (ysg)

Friday, July 22, 2011

Gema Keajaiban Sedekah dari Masjid Raya At Taqwa


Wajah-wajah cerah tampak jelas terlihat dari mereka yang baru saja keluar dari Masjid Raya At-Taqwa Cirebon, Jawa Barat. Mereka tampak terlihat begitu bersemangat. 

“Baru kali ini saya merasa begitu ikhlas bersedekah.” terdengar obrolan diantara mereka yang di jawab dengan anggukan rekannya yang lain. Ternyata mereka baru saja diberikan “pencerahan” selama beberapa jam oleh Ippho Santosa, seorang pakar otak kanan yang giat menyiarkan betapa dahsyatnya kekuatan bersedekah. 

Dalam seminar terbuka untuk umum yang bertemakan “7 Keajaiban Rezeki dan Percepatan Rezeki Dalam 40 Hari Dengan Otak Kanan” itu, yang diselenggarakan pada hari Minggu tanggal 17 Juli 2011 yang lalu, Ippho mengulas salah satu isi buku best seller-nya yang berjudul  7 Keajaiban Rezeki. Dimana disampaikan Oleh Ippho kiat-kiat melakukan percepatan rezeki melalui sedekah, dalam seminar tersebut, beberapa kali Ippho mengatakan: “Sedakah itu ikhlas atau tidak ikhlas, beriman atau tidak beriman pasti dibalas” sebuah kalimat sederhana ini ternyata cukup memancing kita untuk berpikir “Apalagi kalau ikhlas dan beriman, pasti akan lebih dahsyat hasilnya”  pancingan-pancingan seperti inilah yang menjadikan para peserta seminar semakin antusias dalam menyimak materi yang dibawakan oleh Ippho.
 
Ippho juga memberikan contoh-contoh yang sederhana kepada para peserta seminar, sehingga mudah dimengerti dan dipahami. Bukan hanya itu saja, Ippho juga melakukan pendekatan-pendekatan yang sangat Islami dari Al Qur'an dan Hadist dengan bahasa yang sangat sederhana. Inilah satu hal luar biasa yang disampaikan oleh Ippho, yang membedakannya dengan motivator-motivator lainnya. Disini Ippho mencoba mendekatkan kewajiban (memberikan sedekah) dengan “reward”, sehingga kita lebih termotivasi untuk melakukan kewajiban tersebut.

Dalam seminar yang berlangsung hampir empat jam tersebut, Ippho juga memperkenalkan peranan otak kanan dalam melakukan percepatan rezeki, bagaimana kita dituntut untuk lebih imajinatif dan kreatif dalam menggapai cita-cita kita, serta yakin bahwa diri kita mampu untuk melakukan dan terutama adalah yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya untuk merubah sesuatu atas kehendak-Nya. Dengan memaksimalkan peranan otak kanan dan penekanan pentingnya bersedekah, Ippho juga mengajak para peserta seminar untuk memantaskan diri sebagai orang kaya, dengan melakukan prilaku atau kebiasaan orang kaya, seperti bersedekah lebih banyak.

Seminar yang sempat terpotong sholat Ashar tersebut diakhiri dengan penyelarasan harapan antara harapan kita dan harapan orang tua (ibu) dan pasangan kita. Iphho menegaskan bahwa peranan seorang ibu sangatlah penting dalam hidup kita, karena doa dan perkataan seorang ibu lebih di dengar oleh Allah SWT. Karena itu Ippho “menantang” para peserta seminar untuk meminta maaf pada orang tua masing-masing, sebelum menyelaraskan harapan kita dengan mereka. Dan sebagai penutup acara Ippho mengajak para peserta seminar untuk berlomba-lomba memberikan sedekah di atas panggung. Para peserta pun berhamburan ke depan, melemparkan uang mereka ke atas panggung untuk di sumbangkan ke yang berhak melalui panitia acara.

Di pelataran masjid Ippho yang juga bintang iklan Indosat itu juga diserbu oleh para peserta seminar yang berburu tanda tangannya. Bukan itu saja banyak diantara mereka yang berebut foto bersama sang pakar otak kanan. Namun dengan low profil, Ippho mengatakan “Gak perlu foto-foto saya, apalagi buat di share di Facebook atau Twitter, nanti saya yang bakal dapat untung bukan kalian.”

Hmmm... kalau dipikir-pikir benar juga, setiap foto atau hanya nama Ippho saja yang di share pasti akan banyak yang mem-follow atau memberikan komentar. Pantas saja Indosat mendaulatnya sebagai bintang iklan. (ysg)

Suling Pelog Berusaha Menembus Zaman

Diantara keramaian suasana di Alun-alun Keraton Kasepuhan, sayup-sayup terdengar alunan suling bambu. Padahal para pemusik di atas panggung pementasan masih bersiap-siap, saat itu belum ada diantara mereka yang memainkan alat musiknya. Penasaran dengan hal ini, saya berusaha mencari tahu dari mana asal suara alunan suling tersebut.

Ternyata tak jauh dari sebelah kanan penggung, tampak seorang lelaki tua sedang asyik memainkan suling bambunya, tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sebuah rak dengan berbagai ukuran  suling bambu tergantung di sana.

Dialah Pak Syuaib, lelaki berusia 45 tahun asal Desa Cipeujeuh Kecamatan Susukan Lebak Kabupaten Cirebon. Lelaki ini selain seorang pengrajin suling bambu, dia juga seorang peniup suling yang handal, yang sangat piawai dalam memainkan suling untuk mengiringi gamelan Cirebon.

Pak Syuaib adalah sosok yang bersahabat, saat ditanya tentang suling yang ditiupnya, dengan ramah ia memberikan penjelasan tentang tingkatan nada-nada suling yang biasa mengiringi gamelan Cirebon seperti Degung, Pelog dan Salendro. Ia juga menjelaskan jenis-jenis suling yang berbeda untuk memainkan nada-nada tersebut. Dia juga tanpa sungkan-sungkan menguraikan bagaimana suling-suling tersebut dibuat dengan tangannya sendiri. Dengan gamblang ia menjelaskan kelebihan lubang suling yang dibuat dengan menggunakan bor, seperti yang ia buat dibanding dengan menggunakan api.

Tanpa sungkan-sungkan Pak Syuaib menunjukkan kepiawaiannya dalam meniupkan suling dalam berbagai nada. Beberapa orang datang, melihat-lihat suling dagangannya, beberapa diantaranya mengajukan penawaran dengan harga yang rendah, namun Pak Syuaib hanya tersenyum ramah dan kembali melanjutkan alunan sulingnya, dengan nada yang rendah, kadang meninggi dan kembali rendah. Suara sulingnya mengalun bersama tiupan angin malam, merambah setiap sudut  Alun-alun Keraton Kasepuhan, menembus hiruk pikuknya keramaian.

 Saya hanya tersenyum melihatnya, sambil berharap dalam hati, semoga sulingmu tetap mengalun di tengah-tengah “zaman ringtone” ini... (ysg)