Showing posts with label Bahasa daerah. Show all posts
Showing posts with label Bahasa daerah. Show all posts

Friday, May 20, 2011

Asal usul kata “Bobad” (Bohong) dalam Bahasa Cirebon


Dalam bahasa Cirebon mengenal kata bobad yang dalam bahasa indonesia berarti bohong. Kata bobad dalam bahasa Jawa Cirebon ini tidak terdapat pada kosakata bahasa Jawa lainnya, baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur.

Kata Bobad diambil dari sebuah peristiwa di masa lampau, yaitu Perang Bubat. Perang antara Majapahit dan Padjadjaran yang terjadi di daerah Bubat (Di Jawa Timur dekat Istana Trowulan Majapahit). Perang tersebut oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat (Sunda) dianggap sebagai sebuah kebohongan besar. Dimana rombongan kerajaan Padjadjaran yang akan berkunjung ke Ibu Kota Majapahit atas undangan Raja Majapahit, Baginda Raja Hayam Wuruk, dengan tujuan untuk menikahkan sang Putri Diah Pitaloka dengan raja Majapahit tersebut, diserang oleh tentara Majapahit secara mendadak. Sehingga seluruh rombongan Kerajaan Padjadjaran termasuk sang baginda dan putrinya tewas dalam peristiwa tersebut.

Rupanya peristiwa tersebut membekas di hati rakyat pasundan khususnya masyarakat Cirebon yang masih memiliki kekerabatan dengan Kerajaan Padjadjaran,  sehingga kata bubat masuk dalam bahasa sehari-hari masyarakat Cirebon menjadi kata Bobad untuk menggambarkan sebuah kebohongan. (ysg)

Saturday, April 9, 2011

Rusia = Masalah


Anda tentu saja tahu tentang Rusia, salah satu negara yang pernah terlibat perang dingin dengan Amerika. Begitu kuatnya pengaruh propaganda Amerika di Indonesia untuk tidak berpihak pada Rusia, juga sangat berpengaruh pada masyarakat Cirebon. Hal ini dapat dilihat pada kata Rusia yang disama artikan oleh orang Cirebon dengan kata masalah.
 
Contoh penggunaan dalam kalimat bahasa Cirebon: “Wis lah aja luru rusia bae” (Sudahlah jangan cari masalah saja).(ysg)

Tuesday, April 5, 2011

“Kirik” Basa Gaule Wong Cirebon


Pernah mendengar orang Cirebon bercakap-cakap dengan bahasa Cirebon? Bagi anda yang bukan orang Cirebon dan baru pertama kali mendengar percakapan orang Cirebon pasti akan merasa aneh atau geli.

Pasalnya dalam obrolan bahasa Cirebon, selain logat  dan bahasa Jawanya agak berbeda dengan bahasa Jawa kebanyakan, seperti bahasa Jawa yang berasal dari Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Dalam bahasa Jawa Cirebonan juga  kerap terdengar kata “kirik” dilontarkan. Kirik yang dalam bahasa Indonesia berarti anjing ini, dalam bahasa Cirebon tidak diucapkan dalam bahasa makian dengan kondisi marah atau emosi. Kirik biasanya diucapkan dalam bahasa Cirebon sehari-hari, bukan dalam bahasa Cirebon halus atau bebasan yang juga menggunakan bahasa Jawa halus. 

Kata kirik selain digunakan sebagai bahasa gaul untuk menunjukkan keakraban, juga digunakan sebagai ucapan spontanitas untuk menunjukkan rasa kaget atau kekaguman terhadap sesuatu. Contoh penggunaan kata kirik dalam beberapa kalimat:
“Kirik priben kabare lawas beli ketemu kuh?” (Kirik, bagamana kabarnya lama tidak berjumpa), adalah contoh sebuah kalimat yang biasanya diucapkan secara akrab kepada seorang sahabat yang lama sudah tidak berjumpa.
“Kirik, dipareki malah nyruduk!” (Kirik, didekati ko’ Menyeruduk), adalah contoh  sebuah kalimat yang dilontarkan oleh seseorang yang merasa kaget ketika akan di seruduk oleh seekor kambing. Dalam kalimat tersebut penekanan kata kirik diucapkan sebagai ungkapan rasa kaget. Bagi orang luar Cirebon yang mengerti bahasa Jawa, melihat dan mendengar kondisi sebagaimana yang digambarkan tersebut, tentulah akan bingung. Ko’ ada anjing (kirik) yang menyeruduk atau akan berpikiran mana anjingnya, ko’ yang ada cuma kambing? Itulah uniknya bahasa Cirebon.

Dalam obrolan sehari-hari masyarakat Cirebon, kata kirik sering terdengar diucapkan berkali-kali. Apalagi obrolan tersebut adalah obrolan yang tidak serius dalam suasana santai dan penuh canda. Penggunaan kata kirik dirasa mampu menjadi “bumbu penyedap” yang dirasa mampu menjadikan sebuah obrolan menjadi menyenangkan. Karena itu tidaklah salah jika kata kirik dianggap sebagai  basa gaule wong cerbon.

Walaupun kata kirik digunakan sebagai bahasa keakraban, namun dalam penggunaannya tidak bisa sembarang diucapkan. Kata kirik hanya diucapkan kepada orang yang seusia atau lebih muda, karena itu jangan coba-coba menggunakan kata kirik kepada orang yang lebih tua atau pada acara-acara resmi semisal upacara pernikahan atau pembukaan syukuran hari kemerdekaan, karena anda pasti akan dihujani dengan lemparan sendal. (ysg)